Socrates di Era Digital: Kenapa Kita Memuja Kebodohan?
Tulisan ini mencoba memberikan wawasan tentang krisis intelektual dalam kehidupan dunia modern saat ini melalui pemikiran Socrates, seorang filsuf Yunani klasik, yang telah memperingatkan bahaya masyarakat yang lebih memuja hiburan dan kepopuleran dibandingkan kebijakan dan kedalaman pemikiran. Penulis menyoroti bagaimana media sosial dan sosok influencer telah menggantikan peran pemikir sejati, menciptakan ilusi pengetahuan di tengah banjir informasi yang dangkal. Melalui lensa filosofis, kami mengajak kita bersama untuk melatih kesadaran diri dan keberanian untuk mempertanyakan segala sesuatu demi melawan arus kebodohan kolektif. Bahwa kebijaksanaan sejati bermula dari pengakuan atas ketidaktahuan diri sendiri dan komitmen untuk mencari kebenaran di atas zona kenyamanan dan popularitas. Apabila kita dulu pernah mendengar jargon “revolusi mental” sesungguhnya seruan tersebut adalah ajakan untuk melakukan revolusi kesadaran diri pribadi guna memulihkan integritas berpikir jernih dalam dunia yang semakin bising dan dibisingkan oleh para pembising; di dunia di mana suara yang paling keras disalahartikan sebagai yang paling layak diikuti; di mana pengaruh influencer menggantikan kebijaksanaan; dan popularitas menjadi ukuran baru bagi kebenaran.
Popularitas sebagai Kebenaran
Socrates pernah berjalan di jalanan Athena, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membuat orang merasa tidak nyaman. Ia mempertanyakan ilusi pengetahuan, kepercayaan diri palsu dari mereka yang meyakini bahwa mereka tahu, padahal sebenarnya tidak. Sang filsuf mengkhawatirkan tentang suatu masa ketika opini yang dikatakan seorang tokoh sosial, terlepas benar atau tidaknya, bila dikatakan dengan lantang maka akan membayangi dan menutupi kebenaran yang sesungguhnya, apalagi ketika massa akan bertepuk tangan dan mengulang kata-kata yang terasa menyenangkan, membanggakan, dan memberikan ilusi pencapaian atas hakikat kebenaran, terlebih bila dibumbui dengan potongan-potongan ayat agama atau tulisan populer yang beredar luas.
Socrates pada jamannya, senantiasa bertanya dengan tujuan untuk membangunkan orang-orang dari tidur intelektual dan akal budinya. Namun di zaman kita masa kini, dibantu dengan kemajuan teknologi tidur itu menjadi semakin lelap dan lebih berwarna menciptakan fatamorgana yang semakin terlihat nyata. Dahulu Socrates mempertanyakannya, tapi kita sekarang kita merayakannya dan turut mempopulerkannya. Lihatlah sekeliling, idola kita bukanlah pemikir, pencipta, atau pencari kebenaran. Mereka yang diidolakan adalah para penghibur, influencer, dan provokator yang menjual cerita, dibungkus sebagai “informasi eksklusif” dan disampaikan secara populer dengan bumbu humor untuk memberikan cita rasa nyaman untuk disimak dan didengarkan. Mereka ini mencari perhatian, bukan pemahaman. Agora Yunani kuno telah berubah menjadi panggung digital media sosial, di mana mata uangnya adalah “suka” (likes), bukan logika, dan besarannya ditentukan oleh jumlah “pengikut” (followers).
Namun masalahnya bukan hanya ada pada mereka di luar sana. Masalahnya ada di dalam diri kita. Kita tertarik pada tontonan. Kita menghargai kemudahan di atas kerumitan, emosi di atas nalar, citra di atas esensi, popularitas ketimbang pendalaman.
Hal inilah yang diperingatkan oleh Socrates. Ia percaya bahwa bahaya terbesar bagi masyarakat bukanlah ketidaktahuan itu sendiri, melainkan ilusi pengetahuan. Ketika orang berhenti bertanya dan mulai percaya bahwa mereka sudah tahu segalanya, kebijaksanaan dan akal budi pun mati.
Jarang sekali atau hampir tak pernah lagi kita mendengar seseorang tokoh publik ketika ditanya dan mengaku, "Saya tidak tahu." Di zaman Socrates, kerendahan hati seperti itu adalah tanda kecerdasan. Hari ini, itu dianggap sebagai kelemahan. Kita diajarkan untuk berbicara lebih lantang, bukan untuk berpikir lebih dalam. Kita disuruh memiliki opini tentang segalanya atau bagian dari opini populer yang ada. Adalah tabu untuk mengaku “tidak tahu,” sebab AI akan menjawab segalanya.
Dalam kehidupan modern di era digital ini kita telah membangun sebuah peradaban yang mengaburkan visibilitas dengan nilai. Semakin banyak orang melihat kita, maka kita dianggap semakin penting, meskipun apa yang kita katakan adalah hal dangkal dan tidak memiliki kedalaman pemikiran. Pemujaan terhadap penampilan inilah yang dilawan oleh Socrates. Ia menantang kaum Sofis Yunani masa itu, yaitu para tokoh, cendekia, atau para guru yang memungut bayaran untuk mengajarkan cara bicara, menyusun bahasa dalam retorika politik dan argumen berbau filsafat untuk tampak cerdas dan memenangkan perdebatan dalam panggung demokrasi Athena. Terdengar akrab dalam situasi masa kini? Kaum Sofis Athena kuno telah terlahir kembali sebagai influencer populer, politisi bersuara lantang, dan para pakar gadungan yang memberikan kurus kilat dengan sertifikat untuk mendapatkan pengakuan publik.
Socrates percaya bahwa ketidaktahuan bisa disembuhkan melalui pertanyaan dan dialog. Namun apa yang terjadi ketika orang tidak lagi ingin disembuhkan, dan cukup punya alasan merasa tahu, karena semua informasi tersedia dalam “big data” masa kini. Kita memiliki akses ke lebih banyak atas segala jenis “informasi” (termasuk dis-informasi dan mis-informasi) daripada generasi mana pun sebelum kita, namun terjadi paradoks, semakin kita tenggelam di dalamnya, semakin sulit kita memahami diri kita sendiri dan terhadap sesama yang lain.
Pelajaran terbesar Socrates adalah bahwa informasi adalah kebisingan, belum menjadi pengetahuan bila tidak dilandasi kebijaksanaan. Adapun kebijaksanaan dimulai dalam menyadari ketidaktahuan diri sendiri. "Aku tahu bahwa aku tidak tahu apa-apa," kata-kata sederhana namun mendalam itu dimaksudkan untuk menghindarkan kesombongan manusia. Namun dalam kehidupan hari ini, kata-kata itu semakin asing di dunia yang terobsesi dengan kepastian diri. Bayangkan jika para pemimpin dunia kita, pencipta media kita, atau bahkan kita sendiri bisa memiliki kerendahan hati itu lagi. Betapa berbedanya masyarakat kita terlihat?
Runtuhnya Peradaban
Socrates percaya bahwa sebuah masyarakat hanya bisa berkembang jika warga negaranya mencari kebenaran di atas nikmat sesaat. Ia memperingatkan bahwa ketika orang mulai menghargai kesenangan, status, dan hiburan lebih dari kebijaksanaan dan kebajikan, kemunduran peradaban menjadi sesuatu yang tak terelakkan. Dan apa yang ia lihat terjadi di Athena kuno kini telah menggejala pada zaman kita. Pahlawan kita bukan lagi para pemikir yang bertanya dan mengajak berpikir dalam, melainkan para penampil dan penghibur yang tangkas mengalihkan perhatian dari keseriusan berpikir menjadi hiburan dan komedi. Kita dibawa hanyut tanpa henti, mencari stimulasi kenyamanan ketimbang refleksi. Dalam satu momen saja, kita bisa menyaksikan tragedi, komedi, dan absurditas yang semuanya bercampur aduk, masing-masing berebut untuk mendapatkan perhatian kita.
Socrates mungkin bertanya kepada kita hari ini, bila kita menerima suatu pesan atau narasi dalam media sosial kita, apakah pesan itu benar-benar mengajak kita berpikir, atau hanya memancing kita sekadar bereaksi? Karena apa yang dianggap sebagai pemikiran dalam budaya modern sering kali hanyalah gema dari opini orang lain. Coba kita lihat WA kita masing-masing, berapa banyak yang kita terima dari kiriman orang lain (“forwarded” atau “dari kamar sebelah”) ketimbang pemikiran asli pengirimnya. Kita mengonsumsi ide layaknya makanan cepat saji: langsung dikunyah, cepat, emosional, dan tanpa dicerna, fenomena FOMO. Namun seperti halnya tubuh yang tak akan tumbuh sehat dengan makanan sampah, junk food, demikian pula pikiran dan akal budi kita. Ketika otak kita dan hanya disuguhi tontonan dan hiburan populer, ia menjadi tumpul, tidak lagi mampu membedakan pengetahuan dari ilusi.
Di Athena, Socrates berjalan tanpa alas kaki melalui pasar, mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk menggugah pemikiran orang: Apa itu keadilan, apa itu kebajikan? Apa itu kehidupan yang baik? Dan beberapa pertanyaan mendasar tentang kehidupan. Ia bukanlah sekedar berlaku iseng, ini upaya Socrates untuk mengajak orang kembali ke esensi jati diri manusia untuk mengenal dirinya dan pemikirannya sendiri. Bila kita datangkan Socrates berjalan hari ini melalui pasar digital kita, dalam arus media sosial yang dibanjiri komentar-komentar pendek, singkat, tanpa kejelasan dasar argumen yang kuat, apakah ada di antara pemberi komentar yang akan berhenti untuk mendengarkan dan mencoba menjawab pertanyaan Socrates? Justru mereka yang mencoba bertanya dan mengajak berpikir akan dianggap sebagai pengganggu, “sok mikir” dan pertanyaannya akan di-skip, yang tak perlu ditanggapi karena hanya mengganggu ritme instan dalam lomba mencari perhatian.
Plato, muridnya, mencatat keyakinan Socrates bahwa demokrasi hanya bisa berjalan baik jika warga negaranya dididik dalam kebajikan dan nalar. Tanpa landasan itu, ia memperingatkan bahwa orang akan memilih siapa yang nyaring mengatakan apa yang mereka angan-angankan dan menyenangkan untuk didengar, alih-alih mau mendengar fakta dan kebenaran yang mereka hadapi. Apakah itu terdengar akrab dalam kehidupan politik kita saat kampanye? Karena kita memang sedang hidup dalam skenario wacana publik yang telah berubah menjadi teater, di mana kebenaran kalah bersaing dengan popularitas. Masalahnya bukan pada teknologi informasi atau media digital itu sendiri, melainkan pada sublimasi pesan dan respons psikologis diri kita sendiri.
Setiap klik, setiap pesan yang masuk dan dibagikan (forward), setiap suka (likes) menjadi reward, memperkuat dorongan emosional kita, —bukan pemikiran rasional kita — untuk ramai-ramai bergabung dengan ribuan followers lainnya. Kita sebagai makhluk sosial dikondisikan untuk mencari validasi dan kebersamaan ketimbang pemahaman, dan teknologi digital memberikan jalan bagi yang mengendalikan narasi untuk mengundang massa menjadi gerombolan biri-biri yang serempak mengiyakan pada tokohnya.
Inilah bagaimana pemujaan terhadap ketidaktahuan dimulai: bukan sebagai pilihan sadar, melainkan sebagai penyerahan diri secara bertahap. Ketika kita berhenti bertanya, maka otomatis kita mulai mengikuti, menjadi pengikut; ketika kita mengikuti tanpa berpikir, kita mulai memuja, taklid, terpengaruh. Socrates menyebut ini sebagai pembusukan moral—momen ketika masyarakat lupa bahwa tujuan hidup bukanlah untuk dihibur atau mencari kenyamanan, melainkan untuk menjadi bijaksana. Namun pembusukan moral ini cerdik bersembunyi di balik ilusi kemajuan dan kehidupan modern. Karena kita memiliki teknologi komunikasi yang lebih akurat, mesin yang lebih pintar, kendaraan yang lebih cepat dan nyaman, dan lebih banyak variasi kenyamanan daripada generasi sebelumnya, maka tanpa sadar bahwa sesungguhnya kita dibawa ke dunia yang lebih sepi, dimana jabat tangan dan temu muka digantikan dengan pixel di layar kaca, dan itu semua menggejala dalam kehidupan sosial masa kini: banyaknya kasus kecemasan, bullying dan kekerasan, dan masyarakat lebih terpecah belah dari masa sebelumnya.
Bagaimana bisa masyarakat yang tahu begitu banyak tapi begitu sedikit memahami tentang dirinya sendiri? Pikirkan tentang paradoks ini: kita mengikuti dan mungkin bahkan membanggakan si influencer, namun apakah dari mereka memiliki kemampuan untuk memberikan pengaruh menuju suatu kebenaran? Kita mem-forward opini mereka, namun apakah opini tersebut dalam rangka menuju suatu pemahaman yang lebih mendasar? Tanpa sadar kita telah memberikan reward kepada mereka seakan-akan yakin sebagai hal yang tak perlu dipertanyakan lagi, bahkan saat mereka sesungguhnya salah, bahkan lalu terbawa untuk turut mencemooh mereka yang meragukan opini tersebut (padahal justru dari keraguan itu mungkin memberikan jalan menuju pencerahan).
Jika hidup di jaman kita sekarang Socrates pasti sudah akan di-blokir atau di-unfriend sebelum ia sempat mencapai pengadilan Athena bukan karena korupsi, melainkan karena mengajukan pertanyaan yang membuat orang merasa tidak nyaman. Pernyataannya bahwa “Hidup yang tidak pernah diuji tidak layak untuk dijalani” merupakan tantangan kepada kita semua. Namun dunia modern dirancang dan dibangun untuk mencegah pengujian tersebut. Hiburan yang streaming terus-menerus telah menjadi filosofi baru, dan kesenangan menjadi kebenaran baru. Orang Yunani kuno memiliki sebuah kata untuk ini: hubris—dalam bahasa kita mungkin sesuai dengan kata “sok tahu” —keangkuhan karena merasa kita tahu lebih baik daripada kebijaksanaan atau kebenaran itu sendiri. Dan sejarah menunjukkan bahwa hubris selalu berakhir dengan cara yang sama: keruntuhan.
Harapan Adanya Perubahan
Apakah masih ada harapan untuk kembali kepada kebijaksanaan? Bisakah peradaban yang kecanduan kebisingan menemukan kembali keheningan? Keheningan di mana pikiran, refleksi, dan kesadaran diri dilahirkan. Carl Jung pernah berkata bahwa orang akan melakukan apa saja, betapa pun absurdnya, untuk menghindari menghadapi jiwa mereka sendiri. Budaya kita adalah perwujudan dari kebenaran itu. Kita mengisi setiap momen kosong dengan konten, scrolling layar HP, main game, atau updating status, karena keheningan terasa seperti tekanan. Kita lebih suka tenggelam dalam gangguan media sosial daripada hening merenung dalam introspeksi. Namun Jung, seperti halnya Socrates, masih percaya bahwa jalan menuju penyembuhan dapat dimulai melalui kesadaran dan keberanian untuk menghadapi diri sendiri tanpa ilusi.
Apa yang membuat Socrates tak lekang oleh waktu bukanlah metodenya, melainkan pola pikirnya. Ia tidak mengklaim memiliki jawaban; ia hanya tahu bahwa mengajukan pertanyaan yang tepat itu lebih baik daripada berpura-pura mengetahui kebenaran. Socrates akan mengingatkan kita bahwa setiap individu tetap memiliki kekuatan untuk melawan arus. Kebijaksanaan tidak dimulai dari suatu institusi melainkan dengan pilihan individu untuk mencari kebenaran daripada kenyamanan. Kita mungkin merasa berat dan tidak bisa mengubah seluruh budaya, tetapi kita bisa mengubah hubungan kita dengan lingkungan sekitar kita. Kita bisa memilih untuk mendengarkan lebih serius, untuk berpikir lebih kritis, untuk berbicara lebih sedikit dan memahami lebih banyak. Begitulah cara revolusi kesadaran dimulai: secara diam-diam dari dalam. Bayangkan bagaimana transformasi akan masyarakat terjadi saat orang menghargai kerendahan hati di atas ego, memilih refleksi di atas reaksi, dan menjadi bijaksana daripada menjadi influencer populer.
Socrates percaya bahwa ketidaktahuan bukan sekadar tidak adanya pengetahuan, melainkan sejenis kebutaan moral—sebuah penolakan untuk melihat. Dan kebutaan ini tidaklah acak; ia dirancang, dipupuk, dan dipelihara oleh kekuatan iblis yang memahami betapa mudahnya manusia bisa dialihkan dan dimanipulasi. Untuk memahami bagaimana masyarakat mulai menjadi pengikut dan memuja orang bodoh, kita harus terlebih dahulu memahami bagaimana kekuasaan bersembunyi dari pandangan mata. Sepanjang sejarah, mereka yang berkuasa selalu mencari kendali dan menemukan suatu formula: lebih mudah untuk memerintah mereka yang terdistraksi daripada memerintah mereka yang bijaksana. Di Athena kuno, kaum Sofis menggunakan retorika untuk mengaburkan logika, mengubah debat menjadi teater dan tontonan. Mereka mematok biaya tinggi untuk mengajarkan persuasi daripada pencarian. Tujuan mereka bukanlah pencerahan, melainkan pengaruh. Mereka mengubah filsafat—yang dulunya adalah pengejaran kebijaksanaan—menjadi bisnis hiburan.
Seperti hari-hari kita saat ini, semangat yang sama mendominasi media kita, politik kita, dan budaya kita. Kita tidak lagi menjual ide, kita menjual perhatian. Dan perhatian telah menjadi mata uang paling berharga di dunia. Siapa pun yang mengendalikan apa yang dilihat orang, sama halnya dengan mengendalikan apa yang mereka pikirkan. Itulah peran media. Socrates memahami bahaya ini jauh sebelum algoritma ada. Ia melihat betapa mudahnya pikiran manusia disanjung menuju kepatuhan. Ia memperingatkan bahwa orang lebih menyukai kenyamanan dari kebohongan yang menyenangkan daripada ketidaknyamanan dari kebenaran yang pahit. Socrates tidak pernah memberi tahu orang apa yang harus dipercayai. Ia hanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar sampai ilusi mereka runtuh di bawah beban mereka sendiri. Itulah senjata Socrates: bukan kemarahan, bukan ideologi, melainkan nalar.
Ironisnya, di era digital kehidupan modern kita sekarang, tindakan mempertanyakan seperti itu dilihat sebagai pemberontakan. Di dunia dimana kekuasaan menentukan suatu kepastian, si penanya menjadi penyimpang dengan berbagai label (anti-pemerintah, antek-antek asing, ekstrem kiri, ekstrem kanan, kontra revolusi, anti-semitisme, aliran sesat, dan sebagainya). Dan begitulah siklusnya dimulai: pihak yang berkuasa membentuk narasi yang membuat orang tetap terhibur, marah, atau terpecah belah—apa pun asalkan tidak sadar. Massa, yang tertarik oleh emosi dan kehebohan, memberi makan pada sistem yang menipu mereka. Apa yang dulu terjadi di Agora Athena kini terjadi dalam scrolling layar kita. Massa telah mengira kebisingan sebagai pengetahuan, tren populisme sebagai kebenaran, dan emosi sebagai kebebasan.
Friedrich Nietzsche pernah berkata bahwa kegilaan itu jarang terjadi pada individu, namun terbentuk dalam kelompok. Kegilaan kolektif inilah yang dilihat Socrates muncul ketika orang-orang berhenti berpikir untuk diri mereka sendiri. Ketika kerumunan massa menjadi hakim atas kebenaran, kebijaksanaan mati secara perlahan; ia digantikan oleh kebersamaan dalam gerombolan, kemudahan, dan kenyamanan. Pikirkan betapa mudahnya kita dibujuk hari ini oleh slogan, judul berita, atau kemarahan viral, yang bahkan mampu menggoyahkan sebuah rejim pemerintahan. Namun sedikit yang berhenti untuk bertanya: "Apakah ini benar? Apakah ini tepat? Siapa yang diuntungkan dari kejadian ini?" “Lalu apa sesudah ini semua terjadi?”
Socrates menyukai pertanyaan-pertanyaan ini. Ia percaya bahwa jalan menuju kebijaksanaan dimulai dengan keraguan, bukan keraguan sinis, melainkan penyelidikan yang jujur. Ia mengajarkan bahwa kebenaran tidak ditemukan dalam kesepakatan, melainkan dalam pengkajian dan pendalaman. Namun inilah rahasia kelam masyarakat modern: sistem ini tidak menginginkan pemikir; ia menginginkan konsumen. Orang yang berpikir sulit untuk dikendalikan; mereka mempertanyakan otoritas, menantang asumsi, dan mencari makna di luar kesenangan materi. Itulah sebabnya pemujaan terhadap ketidaktahuan adalah pelayan terbaik bagi pihak berkuasa. Ketika orang-orang sibuk bersaing memperebutkan perhatian, mereka menjadi teralihkan untuk menyadari apa yang manipulasi diri mereka sendiri.
Dialektika, adalah penawarnya untuk ini. Ia terlibat dalam dialog bukan untuk menang, melainkan untuk membangunkan. Habermas menyebut sebagai ideal speech. Setiap pertanyaan mengupas lapisan ilusi. Bayangkan jika semangat itu kembali ke sekolah-sekolah kita, percakapan kita, perdebatan politik kita. Bayangkan sebuah budaya di mana ketidaksepakatan bukanlah ancaman, melainkan jalan menuju pemahaman. Alih-alih, kita terjebak dalam "ruang gema" (echo chambers), dikelilingi hanya oleh suara-suara yang setuju dengan pikiran kita. Rasa puas diri dan kenyamanan telah menggantikan rasa ingin tahu dan menghipnotis diri kita sendiri.
Namun mungkin bagian yang paling tragis dari semua ini adalah kita rancu mengartikan “kebebasan” dengan “pilihan.” Kita percaya dan merasa bebas karena kita dapat membuat pilihan atas apa yang nampak dan yang disodorkan di depan kita. Dalam dunia modern masa kini, pilihan semakin beragam, dan justru itulah menjadi tantangan tersendiri bila kita tidak berhati-hati karena kita bisa memilih di antara pilihan yang tak ada habisnya: berbagai jenis barang konsumsi, merek, opini, ideologi, termasuk agama dan keyakinan spiritual. Dalam situasi seperti ini maka Socrates akan bertanya: jika kalian tidak bisa mengendalikan pikiran kalian sendiri, apakah kalian benar-benar bebas?
Kebebasan, menurut Socrates, dimulai dari dalam diri pribadi, dalam penguasaan pikiran dan keinginan. Tanpa kebebasan batin itu, kebebasan eksternal tidaklah berarti. Dalam salah satu dialognya, Socrates membandingkan jiwa dengan seorang kusir kereta yang mencoba membimbing dua ekor kuda: satu kuda mulia yang disiplin, dan kuda lainnya liar dan tidak terkendali. Kusir mewakili akal budi, dan kuda-kuda itu adalah keinginan kita. Jika akal budi kehilangan kendali, jiwa akan terseret ke dalam kekacauan. Gambaran sederhana yang diberikan Socrates itu dengan sempurna menggambarkan kehidupan masyarakat kita, teknologi yang kita pakai, impuls kita, dan nafsu konsumtif kita telah menjadi kuda-kuda liar itu. Kita didorong oleh kecepatan, kesenangan, dan kesegeraan instan. Tantangan bagi sang kusir, yakni akal budi, yang kebingungan atau kehilangan kendali. Psikolog Erich Fromm pernah memperingatkan bahwa manusia modern berisiko menjadi "automata"—makhluk yang tampak bebas namun sebenarnya kosong di dalam, mengikuti perintah yang menyamar sebagai keinginan. Ilusi memiliki pilihan menggantikan pengejaran kebenaran.
Dalam situasi demikian, maka ilusi itulah yang paling ingin dihancurkan oleh Socrates. Menjadi pertanyaan bagi setiap orang yang berpikir, apakah kita sedang hidup dalam kebebasan atau hanya sekadar bereaksi atas pilihan yang disodorkan kepada kita? Apakah kita membentuk pikiran kita sendiri, atau membiarkannya dibentuk pihak lain untuk kita? Apakah kita terpengaruh, atau berpengaruh? Karena saat kita berhenti bertanya, maka otomatis tanpa terasa kita mulai terpengaruh, menjadi pengikut siapa pun atau apa pun yang kita jadikan pilihan—baik itu tokoh influencer, ideologi, atau narasi palsu—yang menjadi tuhan baru kita.
Langkah Menuju Perubahan
Pelajaran apa yang ditinggalkan Socrates bagi kita, yang dapat membangunkan pikiran modern dari tidurnya? Bagaimana kebijaksanaan masih bisa lahir kembali di zaman kebisingan, dan bagaimana setiap dari kita dapat membangkitkan kembali kekuatan batin dan kecerdasan akal budi kita yang selama ini telah dijajah oleh narasi yang diajarkan kepada kita melalui berbagai institusi. Socrates mengajarkan bahwa kemenangan terbesar bukanlah atas orang lain, melainkan atas diri sendiri. Ia memahami bahwa kemunduran sebuah masyarakat dimulai saat individu kehilangan keberanian untuk berpikir secara mandiri. Apa yang kita sebut sebagai era informasi, secara paradoks, adalah era ketergantungan: ketergantungan pada opini, validasi, dan otoritas. Kita dikelilingi oleh kebisingan, namun haus akan kebenaran.
Pesan Socrates yang lebih dalam adalah bahwa kebijaksanaan tidak pernah menghilang dari dunia; ia menghilang dari dalam diri kita ketika kita berhenti mencarinya, saat kita tak lagi mendengar suara batin akal budi diri sendiri. Yaitu ketika manusia merasa cukup puas atas pemujaan terhadap berhala baru: pada tren yang paling heboh, pada judul berita spektakuler, pada tokoh populer yang menjanjikan iming-iming janji kepastian sebagai imbalan dari penyerahan diri kita.
Socrates menolak untuk menyerahkan pemikirannya, bahkan ketika ia berdiri di hadapan pengadilan Athena, dituduh merusak pikiran kaum muda, ia menolak untuk memohon belas kasihan. "Lebih baik aku mati karena telah berbicara dengan caraku sendiri daripada berbicara dengan cara kalian untuk tetap hidup." Dalam momen itu, ia menunjukkan bahwa integritas pikiran lebih berharga daripada kehidupan itu sendiri. Kematiannya bukanlah sebuah tragedi, itu adalah sebuah pesan, sebuah peringatan bagi semua peradaban masa depan, ketika suatu masyarakat membunuh para filsufnya dan justru merayakan popularitas penghibur, dan perlahan menghancurkan peradabannya. Inilah era kita, berabad-abad kemudian, era modernitas, bertepuk tangan untuk ketidaktahuan sambil menguburkan pemikiran kritis. Dunia modern telah membangun kuil-kuil distraksi, pengalih perhatian, di mana altarnya adalah layar kaca, dan imamatnya terdiri dari mereka yang pandai menghibur massa.
Namun Socrates tidak berputus asa. Ia mengingatkan kita bahwa setiap era kegelapan adalah sebuah undangan untuk kebangkitan. Kebodohan yang sama dan menerus akan mencapai puncak krisis pada masyarakatnya, dan akan memicu lahirnya pemikiran baru. Berhadapan dengan berbagi dimensi krisis — ekonomi, politik, moralitas, budaya, lingkungan, dan lainnya— orang mulai bertanya, ragu, dan merasa tertipu. Kebijaksanaan selalu merupakan sebuah pemberontakan, sebuah revolusi tenang yang dimulai di dalam jiwa manusia. Generasi penerus berikutnya mulai bertanya pada diri sendiri: "Apakah aku hidup menurut pemahamanku sendiri, atau menurut kebisingan yang mengelilingiku? Apakah aku mencari kebenaran, atau sekadar mencari validasi?" Pertanyaan-pertanyaan ini mulai mengganggu nurani di lubuk hati, awalnya memang tak nyaman, namun kodrat manusiawi senantiasa melahirkan para “Socrates baru” yang merupakan awal dari kebebasan dan kebangkitan.
Socrates percaya bahwa pengetahuan bukanlah sesuatu untuk dimiliki, melainkan sesuatu untuk dijalani. Ia menyebutnya arete—keunggulan jiwa. Hidup dengan arete berarti menyelaraskan pikiran, kata-kata, dan tindakan kita dengan kebenaran, bahkan ketika itu terasa mengganggu dan terasa tak nyaman; karena selama kita takut untuk menghadapi kegelapan hati kita sendiri, maka kita tetaplah terjajah menjadi tawanan—bukan tawanan masyarakat, melainkan oleh kungkungan pikiran kita sendiri. Di zaman kita saat ini, integritas semacam itu adalah hal yang revolusioner. Itu berarti siap berdiri sendirian di dunia yang terbiasa memberikan reward pada konformitas, yang menghendaki orang bersetuju pada pemahaman kebanyakan orang. Para “Socrates baru” yang muncul tanpa ragu teguh pada pendiriannya meskipun dihujat sebagai “aliran sesat yang menyesatkan.” Di situlah letak kekuatan sejati: bukan pada seberapa banyak orang yang setuju dengan kita, melainkan pada seberapa dalam kita memahami pikiran kita sendiri. Karl Jung pernah menulis bahwa hak istimewa seumur hidup adalah menjadi diri kita yang sejati. Socrates akan setuju dengan Jung, bahwa pengenalan diri adalah jalan menuju pembebasan.
Saat kita mulai memahami diri sendiri—akan ketakutan, keinginan, ketidaktahuan, dan ilusi diri kita—maka saat itu kita menjadi kebal terhadap manipulasi. Tidak ada propaganda, tidak ada influencer, tidak ada ideologi yang dapat memperbudak pikiran diri kita sendiri. Itulah sebabnya metode Socratik sangat relevan untuk menghadapi abad ini, menjadi obat penawar racun kehidupan yang kecanduan pada penampilan dan popularitas. Berhadapan dengan tantangan dan keraguan yang akan terus dihadapi, “Dapatkah kebijaksanaan dan kebenaran bertahan di dunia yang memberikan reward pada konformitas, taklid buta, dan kebodohan?” Jawabannya adalah “Ya, mungkin, insya Allah,” jika dan hanya jika, individu-individu pribadi Socrates baru berani memilih untuk melakukan “pertanyaan Socrates” dan memelihara semangat itu tetap menyala di dalam diri mereka.
Setiap kali kita memilih untuk berefleksi daripada kemarahan, bertafakur dalam keheningan daripada mengikuti kebisingan, mencari kebenaran daripada kenyamanan, maka itu adalah bentuk perlawanan atas budaya kebodohan. Dengan kata lain, generasi ini menjadi “Socrates baru” masa kini. Sejak kemunculannya Socrates tidak pernah menginginkan pengikut, ia hanya menginginkan lahirnya pemikir—orang-orang yang mampu menghadapi kenyataan bahkan saat itu terasa berat dan menyakitkan. Karena kebenaran tidak pernah memperbudak, ia membebaskan; ia mengupas ilusi dan hanya menyisakan apa yang nyata. Dan meskipun itu mungkin awalnya menyakitkan, di sanalah tempat kelahiran kebijaksanaan, kedamaian, dan keaslian.
Jadi, obat penawar bagi pemujaan terhadap tokoh-tokoh bodoh yang berkuasa bukanlah dalam bentuk kemarahan atau sinisme, melainkan kebangkitan dalam diri; sebuah revolusi kesadaran yang tenang, kembali ke dialog batin—dialog yang sama yang dimulai Socrates ribuan tahun yang lalu. Saat kita berani bertanya pada diri sendiri apa yang benar, maka kita melangkah keluar dari kerumunan massa dan masuk ke dalam cahaya batin kita sendiri. Dan mungkin itulah yang paling dibutuhkan masyarakat modern saat ini: bukan suara lain yang berteriak lebih lantang —dan kemudian hilang ditelan kebisingan yang lebih gegap gempita, — melainkan puluhan, ribuan bahkan jutaan pemikir yang diam-diam terbangun bangkit dari tidur mereka. Ketika “Socrates baru” lahir mengajak banyak pikiran mulai bertanya, maka dengan sendirinya runtuhlah ilusi kenyamanan palsu yang dibangun di atas kebodohan massa.
Kebenaran, layaknya cahaya, tidak melawan kegelapan; ia hanya mengungkapkannya. Jadi, biarkan kata-kata Socrates bergema sekali lagi melintasi waktu berabad-abad: "Satu-satunya kebijaksanaan sejati adalah dengan mengetahui bahwa kita sesungguhnya tidak tahu apa-apa." Itu bukanlah pengakuan akan kelemahan, melainkan deklarasi kebebasan, titik awal dari kecerdasan yang tulus, kerendahan hati yang membuka pintu menuju pemahaman. Jika Anda, pembaca tulisan ini telah mencapai titik ini, itu berarti Anda tidak puas dengan jawaban dangkal dunia modern yang disodorkan kepada kita. Anda adalah bagian dari segelintir orang yang masih mencari makna di zaman kegilaan ini. Dan untuk itu, Socrates akan menyebut Anda seorang filsuf—bukan seseorang yang mencintai debat, melainkan seseorang yang mencintai kebenaran.
Sebagai pesan penutup, ajukan satu pertanyaan terakhir pada diri sendiri: "Apakah aku hidup dengan kesadaran yang terjaga, ataukah aku terbawa tidur dan yang merasa nyaman di antara para pemimpi?" Jawaban atas pertanyaan itu bisa mengubah segalanya. Jika pesan ini beresonansi dengan Anda, bawakan kepada mereka yang mungkin masih terbuai dalam tidurnya. Karena kebijaksanaan menyebar bukan dengan paksaan, melainkan dengan inspirasi. Karena revolusi sejati, seperti yang diajarkan Socrates, tidak dimulai di jalanan, melainkan di dalam pikiran diri kita. Terima kasih telah membaca tulisan ini. Semoga bermanfaat.
(Tulisan ini disadur dan disarikan dari The Psyche: How Our Society Started Worshiping Idiots — Socrates).
