Kamis, 11 Juni 2026

Literasi

 


Reduksi Keilmiahan akibat Kepopuleran

Oleh: Abdul Jabbar Karim bin Namirudin.

Banyak artikel sains populer yang berhasil memperkenalkan konsep dasar kepada orang awam, namun layak dipelajar terdapat literatur ilmiah yang secara khusus meneliti keterbatasan, bias, dan kegagalan struktural media populer dalam meningkatkan pengetahuan objektif. Para peneliti sering kali membedakan antara pengetahuan persepsi (apa yang pembaca pikir mereka ketahui) dan pengetahuan objektif (fakta nyata yang benar-benar dipahami dan diingat).

Berikut adalah beberapa pandangan dari beberapa publikasi dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia yang menguraikan skenario, data, dan kerangka kerja yang menunjukkan bagaimana membaca artikel populer gagal meningkatkan pengetahuan objektif, atau bahkan menciptakan pemahaman yang semu (palsu).

1. "Illusion of Knowledge" (Ilusi Pengetahuan) dan Media Populer

Fokus utama dalam psikologi media menunjukkan bahwa meskipun teks akademis atau berita layanan publik yang berkualitas tinggi benar-benar meningkatkan pengetahuan aktual, artikel populer yang terlalu disederhanakan, tabloid, atau artikel media sosial sering kali hanya menciptakan "perasaan tahu" tanpa adanya peningkatan pemahaman faktual yang nyata.

Temuan: Penelitian yang melacak berbagai format media menemukan bahwa sementara konsumsi pers yang berkualitas meningkatkan pengetahuan objektif secara nyata, paparan terhadap berita bergaya tabloid dan artikel media sosial populer tidak memiliki korelasi statistik yang signifikan dengan pengetahuan aktual. Sebaliknya, format populer ini hanya meningkatkan pengetahuan persepsi, sehingga menciptakan apa yang disebut sebagai "ilusi pengetahuan" (Schäfer & Schemer, 2024).

2. Efek Distraksi dari Alat Populerisasi (Misalnya, Humor)

Agar artikel populer menjadi sangat menarik bagi audiens luas, penulis sering kali menggunakan intervensi gaya bahasa seperti humor atau penyederhanaan yang ekstrem. Namun, pengujian empiris menunjukkan bahwa elemen-elemen ini justru dapat menjadi bumerang terhadap metrik edukasi dan pengetahuan yang sebenarnya.

Temuan: Sebuah studi terkontrol secara acak membagi pembaca ke dalam kelompok yang membaca artikel majalah sains populer standar, dan kelompok lain yang membaca versi yang disisipi sisipan humor populer. Studi tersebut menemukan bahwa dimasukkannya elemen populer tersebut tidak menyebabkan peningkatan yang signifikan secara statistik dalam retensi informasi atau pemahaman pembaca. Penulis mencatat bahwa kualitas hiburan dari komunikasi sains populer dapat bertindak sebagai distraksi, menyebabkan subjek ilmiah yang sebenarnya "tenggelam di latar belakang" (Pinto & Riesch, 2015).

3. Miskonsepsi dalam Membaca Mandiri Tanpa Bimbingan

Ketika pembaca mengonsumsi media populer secara mandiri tanpa arahan untuk memahami topik ilmiah yang kompleks, mereka sering kali menyimpulkan kerangka berpikir yang keliru.

Temuan: Meskipun lingkungan pembelajaran mandiri yang terstruktur dan terbimbing berhasil memajukan pemahaman konseptual, membaca teks sains umum secara mandiri tanpa bimbingan tidak memberikan efek statistik yang signifikan terhadap perolehan pengetahuan. Terlebih lagi, mengandalkan pembacaan materi populer atau mandiri tanpa arahan justru menyebabkan peningkatan miskonsepsi yang signifikan secara statistik pada pembaca mengenai subjek ilmiah tersebut (Cukurova et al., 2017).

Dalam literatur komunikasi dan akademik di Indonesia, diskusi mengenai hal ini sangat berfokus pada dilema struktural dari gaya populer tersebut: untuk mencapai tingkat kepopuleran (popularity), esensi aktual dari pengetahuan tersebut sering kali harus dikorbankan secara drastis.

Temuan: Analisis mengenai jurnalistik sains populer menyoroti bahwa ketika mengubah penelitian murni menjadi artikel populer untuk surat kabar atau majalah, teknik penulisan sangat membatasi kompleksitas (misalnya, menjaga kalimat di bawah 20 kata dan menghapus kosakata teknis yang terspesialisasi). Meskipun hal ini menyelesaikan masalah keterbacaan (readability), ia menciptakan masalah sistemik yang serius: upaya untuk mengejar kepopuleran secara inheren dapat mereduksi atau mengurangi keilmiahan ilmu, sehingga meninggalkan pembaca dengan pemahaman yang dangkal atau tidak lengkap mengenai topik tersebut (Dianto, n.d.).

Catatan Reflektif:

Bacaan populer sangat membantu untuk secara cepat membantun rasa ingin tahu dan memberi petunjuk untuk mencari sumber aslinya lebih jauh. Popularitas membuka jendela untuk melihat apa yang ada di dalam ruang pengetahuan itu. Tetapi diperlukan keberanian dan kemauan untuk membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan itu. Baru terbuka kemungkinan untuk menemukan pengetahuan secara lebih lengkap, dan bahkan dengan kecerdasan kritisnya si pembaca dapat menemukan alternatif pemikiran atau menempatkan konteks yang sebelumnya belum pernah ada. Lahirlah pengetahuan baru. Demikian masyarakat menjadi berkembang maju dalam kecerdasan bersama.

Rujukan: 

Cukurova, M., Bennett, J., & Abrahams, I. (2017). Students’ knowledge acquisition and ability to apply knowledge into different science contexts in two different independent learning settings. Research in Science & Technological Education, 36(1), 17–34. https://doi.org/10.1080/02635143.2017.1336709

Dianto, I. (n.d.). Penulisan Ilmiah Murni dan Populer (Teori dan Praktik). Al-Mauizhah.

Pinto, B., & Riesch, H. (2015). Does humor in popular science magazine articles increase information retention and receptiveness in science education? Journal of Science Communication. 

Radetska, S. (2019). Popular scientific literature as a means of popularization of scientific knowledge: linguistic aspects. International Humanitarian University Herald. Philology. https://doi.org/10.32841/2409-1154.2019.43.5.33.

Schäfer, S. (2020). Illusion of knowledge through Facebook news? Effects of snack news in a news feed on perceived knowledge, attitude strength, and willingness for discussions. Comput. Hum. Behav., 103, 1-12. https://doi.org/10.1016/j.chb.2019.08.031.

Schäfer, S., & Schemer, C. (2024). Informed participation? An investigation of the relationship between exposure to different news channels and participation mediated through actual and perceived knowledge. Frontiers in Psychology, 14. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2023.1251379



Rabu, 10 Juni 2026

Wawasan Global

 


PUSARAN KONFLIK AS-ISRAEL DAN IRAN


Oleh: Abdul Jabbar Karim bin Namirudin.

Ringkasan

Dalam lanskap politik internasional saat ini, pandangan John Mearsheimer memberikan perspektif yang provokatif mengenai posisi Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah, khususnya terkait hubungannya dengan Iran. Mearsheimer berargumen bahwa Iran sebenarnya bukanlah ancaman yang berarti bagi keamanan atau kedaulatan fundamental Amerika Serikat. Secara teori, AS dan Iran dapat mencapai kesepakatan hidup berdampingan atau modus vivendi dengan relatif mudah jika kepentingan nasional murni menjadi satu-satunya pertimbangan. Kesepakatan semacam itu berpotensi mencakup pengayaan nuklir terbatas, pemulihan ekonomi Iran, dan stabilitas keamanan regional yang menguntungkan kedua pihak. Namun, hambatan utama dari normalisasi ini bukanlah ketidakmampuan diplomasi, melainkan pengaruh masif lobi Israel dalam politik domestik AS yang memprioritaskan agenda keamanan Israel di atas kepentingan strategis Amerika sendiri.

Lobi Israel secara sistematis bekerja untuk menghalangi setiap upaya penyelesaian yang membiarkan Iran berada dalam posisi yang kuat, baik secara ekonomi maupun keamanan. Kekuatan lobi ini terbukti sangat stabil dan melintasi berbagai administrasi, mulai dari pemerintahan Joe Biden hingga Donald Trump, meskipun opini publik Amerika mulai bergeser menjadi lebih kritis terhadap kebijakan Israel. Strategi yang digunakan mencakup sabotase militer terhadap sekutu Iran seperti Hezbollah setiap kali diplomasi mulai menunjukkan kemajuan, guna memastikan kesepakatan tidak pernah tercapai. Selain itu, lobi ini memastikan AS tetap terikat secara militer di Timur Tengah dan melindungi tindakan Israel dari tekanan diplomatik internasional, sehingga Washington sering kali mengabaikan tuntutan regional agar Israel menarik diri dari wilayah pendudukan.

Pergeseran ini terjadi di tengah runtuhnya arsitektur keamanan lama di Teluk yang selama ini mengandalkan "payung keamanan" Amerika Serikat. Pangkalan militer AS di kawasan tersebut kini dipandang sebagai magnet serangan rudal dan drone Iran, yang justru membawa risiko bagi negara tuan rumah daripada memberikan perlindungan. Fenomena ini memicu fragmentasi di dalam Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), di mana negara-negara seperti Arab Saudi, Oman, dan Qatar mulai menjauh dari AS dan mencoba membangun hubungan pragmatis dengan Iran melalui pendekatan "Realisme Defensif". Sebagai gantinya, muncul kesadaran akan pentingnya arsitektur keamanan inklusif yang mengedepankan koeksistensi dan integrasi ekonomi sebagai penjamin keamanan guna meningkatkan biaya konflik di masa depan.

Di panggung global, kekuatan besar seperti Tiongkok dan Rusia menghadapi dilema strategis terkait konflik ini. Di satu sisi, perang memberikan keuntungan taktis jangka pendek bagi Rusia dalam sektor energi dan pengalihan perhatian militer AS dari Ukraina, sementara Tiongkok diuntungkan oleh pergeseran fokus AS kembali ke Teluk Persia. Namun, di sisi lain, kedua negara tersebut sangat takut akan kemungkinan ekonomi dunia "jatuh dari tebing" jika perang terus berlanjut hingga mengganggu sistem perdagangan internasional secara permanen. Risiko kehancuran ekonomi global ini sebenarnya menjadi insentif kuat bagi hampir seluruh dunia untuk menghentikan perang, kecuali bagi Israel yang tampak tidak terpengaruh oleh risiko tersebut demi mencapai tujuan utamanya: pelemahan total Iran.

Dalam jangka panjang, kemampuan AS untuk memproyeksikan kekuatannya sangat bergantung pada bagaimana ia mengelola institusi internasional dan aliansi strategis. Mearsheimer mencatat bahwa tindakan sepihak dan pengabaian hukum internasional, seperti yang sering ditunjukkan dalam retorika Donald Trump, justru melemahkan pengaruh global Amerika. Sementara AS terlihat semakin menjauh dari lembaga internasional dan sekutu tradisionalnya di kawasan Arab, Tiongkok justru memperkuat posisinya melalui diplomasi multilateral seperti BRICS dan SCO, bahkan mulai menggeser dominasi Petrodolar menjadi Petroyuan dalam perdagangan minyak. Ketidakkonsistenan AS sebagai mitra yang bertanggung jawab, ditambah dengan ketergantungan pada industri persenjataan swasta yang tidak efisien, mulai menunjukkan celah dalam dominasi militer AS saat menghadapi teknologi rudal dan drone modern.

Meskipun demikian, penting untuk dicatat bahwa kebijakan luar negeri yang sembrono tidak secara otomatis menghancurkan fondasi kekuatan material suatu negara. Sebagai negara adidaya, Amerika Serikat tetap memiliki kekayaan ekonomi dan populasi yang menjadikannya kekuatan yang harus diperhitungkan, mirip dengan ketahanannya setelah kekalahan di Vietnam atau Afghanistan. Namun, efektivitas proyeksi kekuatan tersebut di masa depan akan sangat ditentukan oleh apakah Washington dapat kembali fokus pada wilayah strategis yang vital tanpa terjebak dalam konflik yang menguras sumber daya demi kepentingan pihak eksternal. Integrasi ekonomi global pada akhirnya berfungsi sebagai mekanisme pencegah yang mengubah kalkulasi para pemimpin, memaksa mereka untuk menyadari bahwa perdamaian pragmatis jauh lebih menguntungkan daripada kemenangan militer yang melumpuhkan.

***

Masa Depan Hegemoni Amerika: Tekanan Lobi, Tantangan Iran, dan Risiko Ekonomi Global


Posisi Iran dan Lobi Israel

John Mearsheimer berargumen bahwa Iran bukanlah ancaman yang berarti (meaningful threat) bagi Amerika Serikat, dan ketegangan yang ada saat ini lebih banyak dipicu oleh faktor eksternal daripada ancaman keamanan nasional Amerika yang fundamental. Mearsheimer menyatakan secara eksplisit bahwa Iran tidak menimbulkan ancaman nyata bagi keamanan atau kedaulatan Amerika Serikat. Menurut pandangannya, dari perspektif kepentingan nasional murni, sangat masuk akal bagi Amerika Serikat untuk mengupayakan semacam "modus vivendi" atau kesepakatan hidup berdampingan dengan Iran. Jika Israel tidak terlibat dalam dinamika ini, Mearsheimer percaya bahwa Amerika Serikat dan Iran sebenarnya "relatif mudah" dapat mencapai kesepakatan diplomatik dengan.

Argumen Mearsheimer didukung oleh gagasan bahwa penyelesaian yang masuk akal sebenarnya bisa dicapai melalui negosiasi yang saling menguntungkan. Dalam sebuah kesepakatan hipotetis tanpa campur tangan lobi, Iran bisa berada dalam kondisi yang baik dengan:
Memiliki kapasitas pengayaan nuklir yang terbatas.
Pemulihan ekonomi yang signifikan.
Terbentuknya arsitektur keamanan regional yang stabil.
Mengelola pengaturan atas Selat Hormuz.
Bagi Mearsheimer, poin-poin di atas tidak membahayakan Amerika Serikat. 

Mearsheimer memandang tindakan Iran bukan sebagai agresi tanpa alasan, melainkan sebagai upaya perlindungan diri. Ia mencatat bahwa Iran beroperasi dalam dunia yang bersifat "self-help", di mana setiap negara harus melakukan apa yang terbaik bagi kepentingan keamanan mereka sendiri dan memiliki stabilitas untuk membangun negaranya. Pandangan Iran yang melihat Israel dan Amerika Serikat sebagai negara yang bertindak secara ekstrem (ia menyebut Iran memandang mereka sebagai "negara genosidal") merupakan reaksi dari perspektif atau cara pandang Iran dalam menghadapi konflik di Timur Tengah. Mearsheimer menggunakan istilah ini bukan sebagai penilaian pribadinya, melainkan untuk menguraikan logika strategis di balik keputusan-keputusan Iran untuk mengambil langkah-langkah keamanan yang tegas demi kelangsungan hidup mereka sendiri. Dengan kata lain, permusuhan Iran terhadap AS adalah reaksi terhadap situasi keamanan, bukan karena Iran secara inheren ingin menghancurkan Amerika. Pandangan ini dikenal dalam hubungan internasional sebagai “realisme defensif” dimana tidak ada otoritas tertinggi yang dapat melindungi sebuah negara kecuali negara itu sendiri. Dalam lingkungan yang anarkis ini, jika sebuah negara (seperti Iran) merasa bahwa ada musuh-musuh yang mengancam eksistensinya, maka negara tersebut akan merasa wajib melakukan apa pun yang diperlukan demi kepentingan keamanannya sendiri.

Mearsheimer mencatat terjadinya propaganda “demonisasi” (dari kata demon, atau iblis) oleh kedua belah pihak. Selama ini publik Amerika telah dikondisikan untuk percaya bahwa Iran adalah negara yang jahat. Sebaliknya, dari sudut pandang Iran, tindakan-tindakan Israel dan AS di kawasan tersebut dikategorikan sebagai tindakan genosidal yang dibuktikan dengan rangkaian pembunuhan terhadap tokoh-tokoh ilmuwan Iran, termasuk pimpinan militer dan diplomatnya, yang kemudian digunakan oleh Iran untuk membenarkan strategi pertahanan mereka yang keras. Persepsi ini menciptakan kebuntuan diplomatik yang tajam. Jika Iran yakin bahwa mereka sedang menghadapi aktor-aktor yang berniat menghancurkan mereka secara total (genosidal), maka ruang untuk kompromi menjadi sangat sempit. Sebaliknya lobi Israel di AS juga bekerja keras untuk memastikan tidak ada kesepakatan yang tercapai, sehingga memperkuat narasi permusuhan eksistensial di kedua belah pihak.

Mearsheimer juga menyiratkan bahwa citra Iran sebagai ancaman global seringkali merupakan hasil dari persepsi yang dikondisikan, terutama oleh lobi Zionis Yahudi maupun Zionis Evenjelin Kristen. Ia menyebutkan bahwa upaya diplomasi publik Iran (melalui video Lego di YouTube) secara efektif menunjukkan kepada publik Amerika bahwa orang Iran "bukanlah jelmaan iblis" (not the devil incarnate) sebagaimana yang dipropagandakan. Ini menunjukkan bahwa narasi "ancaman Iran" sering kali dibesar-besarkan untuk kepentingan politik tertentu di Washington, Yaitu pengaruh lobi Israel di dalam politik domestik AS. Lobi tersebut akan melakukan segala cara untuk menghalangi kesepakatan apa pun antara AS dan Iran. Setiap kali ada kemajuan menuju gencatan senjata atau kesepakatan, tindakan militer seringkali diambil sepihak oleh Israel (seperti serangan Israel terhadap Hezbollah yang didukung Iran selaku gerakan perlawanan terhadap pendudukan Palestina) untuk menyabotase proses diplomasi tersebut. Oleh karena itu, permusuhan yang terus berlanjut bukanlah cerminan dari ancaman nyata Iran terhadap AS, melainkan hasil dari kebijakan AS yang dalam pengaruh kepentingan keamanan Israel, yang pada akhirnya mendikte mengapa Iran tetap teguh pada strategi militernya meskipun menghadapi tekanan ekonomi dan diplomatik yang besar.

Kuatnya lobi Israel di AS dilakukan melalui AIPAC* (American Israel Public Affairs Committee)  yang memberikan dukungan finansial penuh kepada calon anggota Kongres (parlemen, perwakilan rakyat) yang berjanji akan memberikan dukungan penuh kepada Israel dalam setiap kebijakan politik luar negeri AS. Donasi besar-besaran juga diberikan kepada calon Gubernur, Walikota, bahkan kepada calon Presiden dan Wakil Presiden AS. Mereka secara terbuka melakukan manuver ini yang dimungkinkan dengan adanya mekanisme “Super PAC” (Super Political Action Committee), selaku komite aksi politik di Amerika Serikat yang dapat mengumpulkan dan menghabiskan dana dalam jumlah tidak terbatas untuk mendukung atau menentang kandidat politik.  Aturan ini berasal dari keputusan Mahkamah Agung AS pada tahun 2010. Sistem ini sangat mengubah wajah pemilu AS karena memungkinkan pihak-pihak dengan modal besar, seperti miliarder dan korporasi, untuk menyuntikkan dana kampanye berskala masif.  Banyak tokoh publik (seperti Profesor Jeffrey Sachs dari Columbia University, podcaster Tucker Carlson)*  secara terbuka mengkritisi sistem ini sebagai penyebab cacatnya demokrasi di AS. 

Sedemikian kuat pengaruh lobi ini meskipun banyak protes dilakukan dan terjadi perubahan besar dalam opini publik Amerika yang mulai lebih kritis terhadap Israel, pengaruh lobi tetap tak tergoyahkan dan tetap sekuat sebelumnya meskipun mereka sekarang harus mengeluarkan sumber daya yang jauh lebih besar dan menghadapi perlawanan publik yang lebih kuat daripada sebelumnya. Apapun kata publik, kepentingan Israel selalu mendapatkan prioritas dalam kebijakan aktual AS, terutama dalam dukungan militer. Kekuatan lobi ini tidak berkurang saat terjadi pergantian kepemimpinan. 

Mearsheimer mencatat bahwa lobi tersebut sangat berkuasa selama pemerintahan Biden dan tampaknya tetap sangat kuat, atau bahkan berpotensi lebih kuat, di bawah pemerintahan Trump. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh lobi tersebut bersifat sistemik dan tidak bergantung pada partai politik yang sedang berkuasa. Lobi Israel ini berhasil memastikan bahwa AS tetap terlibat secara militer di Timur Tengah, dan menghalangi AS untuk tetap mengembangkan ambisi imperialistiknya di kawasan tersebut, karena penarikan mundur dianggap akan membahayakan keamanan Israel yang sangat bergantung pada dukungan AS. Lobi ini juga memastikan bahwa tuntutan internasional atau regional agar Israel menarik diri dari wilayah pendudukan (seperti Gaza, Tepi Barat, atau Lebanon selatan) tidak akan digubris oleh Washington. AS akan terus melindungi Israel dari tekanan diplomatik internasional, di mana AS selalu menggunakan hak vetonya di Dewan Keamanan PBB. Profesor John Mearsheimer menunjukkan bahwa pengaruh lobi Israel ini telah menciptakan hambatan sistematis bagi AS untuk melakukan hubungan yang lebih pragmatis atau damai dengan Iran, yang pada akhirnya berhasil mendikte strategi militer dan diplomatik AS di kawasan Timur Tengah mendukung agenda “Greater Israel” untuk perluasan wilayahnya.

Pergeseran Pendekatan Realisme dari Ofensif menjadi Defensif.

Perubahan arsitektur keamanan di Teluk dan keretakan hubungan antar negara-negara Arab saat ini sedang mengalami pergeseran fundamental yang dipicu oleh konflik. Arsitektur keamanan yang selama ini yang mengandalkan Amerika Serikat (AS) sebagai pelindung utama negara-negara Teluk (GCC) dinilai telah gagal total. Selama ini, negara-negara Teluk mengizinkan pembangunan pangkalan militer AS dengan pemahaman bahwa AS akan memberikan perlindungan keamanan. Namun, dalam konflik terbaru, pangkalan-pangkalan AS tersebut justru menjadi "magnet raksasa" bagi serangan pembalasan Iran dengan rudal hipersonik dan drone yang menyebabkan kerusakan signifikan bagi negara tuan rumah. Akibatnya, AS tidak lagi dipandang sebagai sekutu yang dapat diandalkan, dan hubungan ini telah berubah selamanya.

Situasi juga menjadi lebih rumit ketika Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) tidak lagi dipandang sebagai entitas yang bersatu. Terjadi keretakan mendalam di antara anggotanya, terutama antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA). Persaingan dan ketegangan di antara kedua negara ini bahkan disebut lebih dalam daripada ketegangan antara Iran dan UEA. Akibat serangan balasan Iran yang cukup mematikan maka terjadi perpecahan dua blok:
Blok Rekonsiliasi (Saudi, Oman, Qatar, dan terakhir Bahrain bergabung): Arab Saudi kini cenderung menjauhkan diri dari AS dan berupaya membangun modus vivendi atau kesepakatan damai dengan Iran karena mereka tidak memiliki kepentingan dalam permusuhan permanen. Oman juga diprediksi akan bekerja sama dengan Iran untuk mengendalikan Selat Hormuz.
Blok Konfrontasi (UEA, mungkin Kuwait): Sebaliknya, Uni Emirat Arab cenderung terus memperkuat kolaborasi mereka dengan Israel melalui “Abraham Accords”  (membentuk kerjasama dan pengakuan negara Israel) untuk menutupi kegagalan payung keamanan AS. Namun, langkah ini dinilai berisiko tinggi karena menjadikan mereka sebagai "negara garis depan" dalam konflik Israel-Iran.

Dalam situasi krisis dan ancaman serangan balasan Iran yang secara eksplisit ditujukan kepada mereka yang memberikan dukungan terhadap serangan AS-Israel, tumbuh kesadaran baru kegagalan pendekatan keamanan yang bersifat eksklusif (sebagian wilayah dipersiapkan untuk secara ofensif melawan wilayah lainnya), yang Mearsheimer sebutkan sebagai “realisme ofensif.” Sebagai gantinya, muncul dorongan menuju arsitektur keamanan yang lebih inklusif, atau “realisme defensif” dengan ciri-ciri sebagai berikut:
Koeksistensi dengan Iran: Ada realisasi bahwa jika kekuatan super seperti AS dan negara nuklir seperti Israel tidak mampu menundukkan Iran, maka negara-negara Teluk lainnya tidak memiliki pilihan selain mencari jalan untuk hidup berdampingan (koeksistensi).
Integrasi Ekonomi sebagai Penjamin Keamanan: Strategi baru melibatkan integrasi ekonomi untuk meningkatkan biaya konflik di masa depan dan mengurangi insentif bagi negara-negara untuk berperang.
Meninggalkan “Pembendungan Paksa”: Kawasan ini mulai bergerak meninggalkan kebijakan pembendungan paksa (coercive containment) terhadap Iran dan lebih memilih stabilitas melalui diplomasi langsung.

Pilihan konfrontasi dengan Iran ini menciptakan risiko keamanan baru bagi negara-negara yang tetap memilih bersekutu erat dengan Israel, seperti UEA. Jika Israel menyerang sekutu Iran (seperti Hezbollah di Lebanon), Iran kemungkinan besar akan membalas dengan menyerang sekutu Israel di kawasan tersebut, yaitu UEA sebagaimana yang sudah dan sedang terjadi.

Posisi Uni Emirat Arab (UEA)

Kerja sama antara Uni Emirat Arab dan Israel meningkat pesat setelah penandatanganan “Abraham Accords” pada September 2020. Sebelum itu, hubungan keduanya sebagian besar bersifat informal dan tertutup. Setelah normalisasi, hubungan berkembang ke bidang ekonomi, teknologi, keamanan, pertahanan, energi, transportasi, hingga pariwisata. UEA mengambil keputusan strategis ini dalam rangka tujuan jangka panjangnya untuk melepas ketergantungan pada minyak dalam ekonominya. Kedua negara menandatangani perjanjian perdagangan bebas (CEPA) yang mulai berlaku pada 2023 yang menghasilkan perdagangan bilateral senilai lebih dari US$3 miliar per tahun untuk sektor-sektor teknologi, logistik, energi, kesehatan, jasa keuangan, pertanian modern, logam mulia, manufaktur canggih, termasuk persenjataan. UEA menyediakan modal investasi, infrastruktur, dan akses pasar regional, sementara Israel memberikan teknologinya.  Banyak perusahaan teknologi Israel membuka kantor atau menjalin kemitraan di Dubai dan Abu Dhabi, mencakup keamanan siber, kota pintar, fintech, dan teknologi energi.  Sejak 2020 ratusan ribu warga Israel mengunjungi UEA, sebaliknya wisatawan Emirat mulai berkunjung ke Israel. Pariwisata menjadi salah satu sektor yang tumbuh paling cepat sebelum perang Gaza 2023 dengan membuka penerbangan langsung antara Dubai, Abu Dhabi, dan Tel Aviv yang juga menjadi simbol paling nyata normalisasi hubungan mereka.

Apa yang Israel Lakukan di Dalam UEA?

Pertanyaan ini sering muncul dalam diskusi geopolitik. Secara umum, aktivitas Israel di UEA dapat dilihat sebagai kerjasama bisnis pada umumnya. Sejumlah perusahaan Israel berinvestasi di UEA untuk menjangkau pasar kawasan Teluk dan ke Asia dalam bidang teknologi tinggi, seperti fintech, cyber security, teknologi kesehatan, agritech, energi, data center, dan pengembangan peranti lunak. Namun yang lebih menarik perhatian para analis geopolitik adalah bidang militer. Menurut berbagai laporan dan studi akademik,* sejak “Abraham Accords”  terjadi peningkatan signifikan dalam transfer teknologi pertahanan, kerja sama industri senjata, pertahanan udara, sistem anti-drone, intelijen dan keamanan regional. * 

Beberapa perusahaan pertahanan Israel telah membuka representasi atau operasi bisnis di UEA, seperti kerja sama antara Israel Aerospace Industries dengan EDGE Group (perusahaan pertahanan milik UEA).* Laporan terbaru menyebut perusahaan Israel di sektor elektro-optik dan pengawasan mulai membangun anak perusahaan di Abu Dhabi untuk penjualan, pemeliharaan, dukungan teknis, dan produksi lokal terbatas.  Argumen para analis yang berpendapat bahwa faktor utama yang mendekatkan Israel dan UEA adalah persepsi ancaman bersama terhadap pengaruh regional Iran. Karena itu kerja sama pertahanan dan industri militer juga berkembang pada pemantauan rudal, keamanan maritim Teluk, pertahanan udara, termasuk intelijen strategis. Bahkan pada 2026 muncul laporan bahwa sistem pertahanan udara Israel dan personel teknis Israel membantu perlindungan terhadap ancaman drone dan rudal Iran di UEA.*

Apa yang Diharapkan UEA dalam Kerja Sama dengan Israel?

Dari perspektif Realisme dalam Hubungan Internasional, dapat diduga ada tiga alasan utama:
Keamanan: UEA dapat memperoleh teknologi militer canggih, kemampuan teknologi siber, akses ke inovasi pertahanan Israel
Diversifikasi Ekonomi: UEA sedang berusaha mengurangi ketergantungan pada minyak dalam cadangannya yang relatif terbatas dibandingkan minyak Saudi Arabia atau cadangan gas di Qatar. Sementara Israel menawarkan teknologi tinggi, program start-up, kemampuan AI, keamanan siber yang diperlukan untuk menjadikan Dubai sebagai kota global seperti Singapura, Hong Kong, atau Shenzhen.
Posisi Geopolitik: Kemitraan dengan Israel memperkuat posisi UEA dalam sistem jaringan keamanan Barat, khususnya dengan Amerika Serikat. 

UEA cukup sadar membuat pilihan yang akan menuai kritik dari berbagai pihak di dunia Arab dan Islam. Persaingan figur “dua pangeran” MBZ vs MBS (Muhammad bin Zayed dan Muhammad bin Salman) sudah menjadi pembicaraan umum. Sementara MBZ tidak memasalahkan Palestina dalam “Abraham Accords”, bagi MBS hal ini merupakan pra-syarat mutlak. MBS juga melihat kerja sama militer UEA dianggap memperkuat industri pertahanan Israel dan menjadi pesaing dalam kekuatan militer di antara negara-negara Arab yang selama ini dipegang Saudi. Ditinjau dari perspektif realisme dalam hubungan internasional, UEA cenderung melakukan “realisme ofensif” sementara Saudi Arabia menjalankan “realisme defensif’ atau “realisme struktural.”

Karena itu, John Mearsheimer dan banyak akademisi memandang hubungan UEA–Israel saat ini bukan sekadar normalisasi diplomatik, melainkan bagian dari proses pembentukan arsitektur keamanan dan ekonomi baru di Timur Tengah pasca-2020. Secara keseluruhan, perkembangan geopolitik sekarang menunjukkan bahwa tatanan lama di Teluk telah hilang, digantikan oleh tatanan yang lebih terfragmentasi di mana setiap negara mengejar kepentingan keamanan masing-masing, seringkali dengan mendekati musuh lama mereka, Iran, demi kelangsungan hidup nasional. (lihat tulisan saya sebelumnya “Memahami Hegemoni Global”).

Dilema Tiongkok dan Rusia

Tiongkok dan Rusia melihat konflik geopolitik di Timur Tengah ini sebagai fenomena dua sisi yang memberikan keuntungan strategis jangka pendek, namun di sisi lain mengancam stabilitas ekonomi yang menjadi fondasi kekuatan mereka. Ini sebuah dilema yang secara cermat perlu direspons secara strategis. Beberapa keuntungan taktis jangka pendek terhadap posisi global mereka antara lain:
Keuntungan Rusia dalam Sektor Energi: Akibat konflik ini, sanksi terhadap penjualan minyak Rusia telah dilonggarkan karena Amerika Serikat memiliki kepentingan untuk memastikan tersedianya stok pasokan minyak di pasar global guna menjaga stabilitas harga yang berpengaruh pada pebisnis AS yang memiliki ketergantungan pada pasokan minyak.
Pengalihan Perhatian Militer AS: Semakin lama perang berlangsung, semakin sedikit persenjataan yang dapat diberikan Amerika Serikat kepada Ukraina dan Taiwan. Hal ini secara langsung menguntungkan posisi militer Rusia di medan perang tersebut dan bagi dan Tiongkok dalam menghadapi Taiwan.
Keuntungan Tiongkok dari Perubahan Fokus AS: Tiongkok diuntungkan karena Amerika Serikat terpaksa mengalihkan fokusnya dari Asia kembali ke Teluk Persia, yang memberikan ruang bernapas bagi Tiongkok di wilayah pengaruhnya sendiri dalam kaitan dengan Taiwan.

Meskipun ada keuntungan strategis, kedua negara sangat khawatir terhadap dampak ekonomi yang lebih luas:
Ketakutan akan Kehancuran Ekonomi Global: Baik Tiongkok maupun Rusia merasa sangat terancam oleh kemungkinan ekonomi dunia akan mengalami krisis yang dalam jika perang terus berlanjut. Dampak kerusakan pada ekonomi internasional akan menjadi pukulan bagi pertumbuhan domestik mereka. Profesor Jeffrey Sachs mengingatkan bahwa pada waktu krisis minyak tahun 1973 itu terjadi akibat embargo minyak yang diberlakukan oleh negara-negara anggota Arab OPEC terhadap Amerika Serikat dan sekutunya. Produksi dan stok minyak berkecukupan, hanya ditutup krannya. Kebijakan ini merupakan pembalasan atas dukungan Barat terhadap Israel dalam Perang Yom Kippur, yang memicu lonjakan harga minyak global dari $3 menjadi $12 per barel. Situasi akibat perang AS-Israel dengan Iran saat ini berbeda. Akibat pembalasan Iran atas negara-negara Arab sekutu AS penghasil minyak telah terjadi kerusakan parah pada kilang-kilang minyak sehingga menurunkan produksi dan stok minyak yang tersedia. Kalau pun perang usai maka diperlukan waktu 5-7 tahun minimal untuk memperbaiki dan membangun kembali kilang-kilang tersebut agar beroperasi kembali secara normal. Dunia akan mengalami kelangkaan minyak dan memicu kenaikan harga yang berdampak besar terhadap berkurangnya produksi bahan produksi berbasis minyak seperti pupuk urea, amonia dan produk petrokimia lainnya yang berpengaruh pada produksi pertanian dan industri lainnya.
Insentif untuk Menghentikan Perang: Prospek kerusakan ekonomi yang terlalu besar memberikan insentif yang kuat bagi Tiongkok dan Rusia untuk mencoba menghentikan perang ini sesegera mungkin. Mereka menyadari bahwa kehancuran pasar global tidak sebanding dengan keuntungan taktis yang mereka dapatkan dalam jangka pendek. Karena adanya risiko depresi ekonomi global tersebut maka Tiongkok dan Rusia terus melakukan upaya-upaya diplomasi untuk menengahi konflik terus diupayakan, seperti melalui Pakistan yang mencoba melakukan pertemuan untuk gencatan senjata. Tetapi sebagaimana dijelaskan sebelumnya, adanya lobi Israel di AS mempersulit terjadinya perundingan yang efektif hingga saat tulisan ini ditayangkan. Tiongkok juga secara langsung memberikan tekanan pada Iran untuk menyelesaikan perang dan bekerja sama dengan Pakistan sebagai mediator. Namun, Iran tetap memprioritaskan kepentingan keamanannya sendiri ketimbang saran dari Beijing atau Moskow. Meskipun Iran membutuhkan Tiongkok sebagai pembeli minyak utamanya, Tiongkok juga menjadi sangat bergantung pada pasokan minyak dari Iran pada saat pasokan minyak dari negara-negara Arab terputus. Hal ini memberikan Iran posisi tawar dalam menghadapi tekanan diplomatik dari Tiongkok.

Secara ringkas, bagi Tiongkok dan Rusia, perang antara AS-Israel dan Iran ini dapat menjadi peluang untuk melemahkan dominasi AS di kawasan lain, tetapi mereka juga tidak ingin menjadi perang yang berkelanjutan yang dapat menghancurkan sistem ekonomi global yang justru menjadi penghambat dalam pembangunan ekonomi kedua negara ini.

Dampak Perang Terhadap Ekonomi Global

Kerusakan pada ekonomi internasional ini diprediksi akan menjadi sangat besar sehingga dapat menimbulkan masalah serius, tidak hanya bagi stabilitas politik di Amerika Serikat tetapi juga bagi seluruh tatanan ekonomi dunia.
Konflik ini memiliki pengaruh langsung terhadap kebijakan energi global. Amerika Serikat memiliki kepentingan vital untuk memastikan pasokan minyak yang cukup di pasar global guna menstabilkan harga. Dibuktikan, sanksi terhadap penjualan minyak Rusia telah dilonggarkan agar minyak tersebut tetap mengalir ke pasar dunia.

Di lain pihak, risiko kerusakan ekonomi yang parah mungkin menjadi satu-satunya cara untuk memaksa adanya perubahan kebijakan. Mearsheimer berargumen bahwa ketika kerusakan terhadap ekonomi internasional menjadi "terlalu besar," Amerika Serikat mungkin akan terpaksa "menekan Israel dengan sangat keras" untuk mengakhiri sikap keras kepalanya. Dengan kata lain, kepentingan ekonomi global mungkin akan mengalahkan pertimbangan politik lobi Israel, dikarenakan:
Iran telah menawarkan minyak dengan diskon sekitar 15% hingga 20% kepada Tiongkok selama lebih dari 10-15 tahun terakhir akibat sanksi. Tiongkok telah menjadi sangat bergantung pada pasokan ini, sehingga gangguan pada aliran energi ini akibat perang akan berdampak besar pada ekonomi Tiongkok.

Di sisi lain bagi Tiongkok dan Rusia meskipun dalam jangka pendek mendapatkan keuntungan strategis dari pengalihan perhatian AS, mereka sangat mengkhawatirkan dampak ekonomi jangka panjangnya juga akan berpengaruh terhadap ekonomi domestik mereka. Prospek kehancuran ekonomi global memberikan insentif yang kuat bagi Tiongkok dan Rusia (serta hampir semua negara lain kecuali Israel) untuk mencoba menghentikan perang ini sesegera mungkin. Mereka menyadari bahwa stabilitas ekonomi mereka sangat bergantung pada kesehatan ekonomi internasional yang saat ini terancam oleh konflik tersebut.

Dalam pandangan John Mearsheimer, Israel tampaknya menjadi pengecualian di antara negara-negara dunia yang merasa sangat ketakutan terhadap risiko kehancuran ekonomi global. Alasan utama mengapa Israel tidak menunjukkan ketakutan yang sama atau tetap bersikap keras kepala adalah karena prioritas strategisnya yang sangat berfokus pada pelemahan Iran.
 
Prioritas Menghancurkan Kesepakatan AS-Iran: Mearsheimer menyatakan bahwa Israel dan lobinya di Amerika Serikat akan melakukan upaya luar biasa untuk merusak segala bentuk penyelesaian yang berarti antara AS dan Iran. Bagi Israel, mencegah Iran untuk berada dalam posisi yang menguntungkan—seperti memiliki ekonomi yang pulih atau pengayaan nuklir yang diakui—adalah tujuan yang jauh lebih penting daripada stabilitas ekonomi internasional.
Ketakutan akan Iran yang dalam Kondisi Baik: Dari perspektif Israel, kesepakatan apa pun yang membiarkan Iran pulih secara ekonomi, memiliki arsitektur keamanan regional, atau menguasai Selat Hormuz akan membuat pihak Israel merasa terancam secara eksistensial. Oleh karena itu, mereka lebih memilih situasi konflik yang terus berlanjut daripada melihat Iran bangkit sebagai kekuatan regional yang stabil.
Kesediaan untuk Melakukan Sabotase Militer: Israel menunjukkan pola di mana mereka bersedia menggunakan kekuatan militer untuk menyabotase diplomasi. Mearsheimer mencatat bahwa setiap kali ada langkah menuju gencatan senjata yang berarti, Israel sering kali "melepaskan anjing-anjingnya" pada Hezbollah untuk melanggar gencatan senjata tersebut. Tindakan ini dilakukan secara sengaja untuk memastikan kesepakatan tidak pernah tercapai, terlepas dari konsekuensi ekonomi yang mungkin timbul akibat perang yang berkepanjangan.
Posisi sebagai "Pengecualian" Global: Mearsheimer secara eksplisit menyebutkan bahwa sementara negara-negara seperti Tiongkok, Rusia, dan hampir semua negara lain di planet ini sangat khawatir terhadap kemungkinan ekonomi dunia mengalami depresi, Israel mungkin merupakan satu-satunya pengecualian. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kalkulasi strategis Israel, risiko ekonomi global dianggap sebagai masalah sekunder dibandingkan dengan kepentingan keamanan mereka di kawasan.
Kebandelan yang Membutuhkan Tekanan Eksternal: Karena Israel dianggap tidak akan berhenti atas kemauannya sendiri, Mearsheimer berargumen bahwa pada satu titik, Amerika Serikat akan terpaksa "menekan Israel dengan sangat keras" untuk mengakhiri sikap keras kepalanya. Hal ini hanya akan terjadi jika kerusakan pada ekonomi internasional tidak tertahankan lagi bagi dunia dan berdampak terlalu besar bagi AS. 

Secara ringkas keyakinan strategis Israel bahwa keamanan nasional mereka bergantung pada isolasi dan pelemahan total Iran merupakan tujuan yang mereka anggap layak diperjuangkan meskipun harus mengorbankan stabilitas ekonomi dunia, dengan asumsi bahwa kekacauan ekonomi global justru juga akan berdampak menghancurkan ekonomi Iran. Sementara banyak analis mempertanyakan asumsi ini, bahwa tidak ada satu pun negara yang diuntungkan jika ekonomi dunia benar-benar kacau dan menjadi depresi global, termasuk bagi Israel sendiri yang sangat bergantung kepada dukungan AS.

Berikut adalah beberapa poin mengenai siapa yang terkena dampak dan pengecualian yang disebutkan oleh John Mearsheimer:
Pihak yang Paling Terancam (Tiongkok dan Rusia): Meskipun dalam jangka pendek Tiongkok dan Rusia mendapatkan keuntungan strategis dari krisis di Timur Tengah tersebut (seperti pengalihan perhatian AS dari Ukraina dan Asia), Mearsheimer menegaskan bahwa kehancuran ekonomi global akan memberikan "pukulan yang sangat besar" bagi kedua negara tersebut yang berusaha membangkitkan ekonominya pasca perang.
Ketakutan Global: Mearsheimer menyatakan bahwa hampir setiap negara lain di planet ini merasa sangat takut terhadap kemungkinan ekonomi dunia akan runtuh. Ketakutan inilah yang justru memberikan insentif kuat bagi negara-negara tersebut untuk mencoba menghentikan perang secepat mungkin.
Dampak Politik di AS: Kehancuran ekonomi ini juga diprediksi akan menyebabkan masalah besar bagi posisi politik Donald Trump dan pendukungnya akibat kekacauan ekonomi di dalam negeri yang dirasakan oleh seluruh rakyat AS.

Kesimpulan Strategis: Satu-satunya "keuntungan" dari potensi kehancuran ekonomi ini—dalam perspektif diplomatik—adalah bahwa hal itu bisa menjadi satu-satunya faktor yang memaksa Amerika Serikat untuk bertindak tegas untuk menghentikan sikap keras kepala Israel dan mengakhiri konflik demi menyelamatkan ekonomi dunia.

Integrasi Ekonomi sebagai Strategi Keamanan Masa Depan

Sebagai respons terhadap ketidakstabilan ini, muncul pemikiran di antara beberapa negara Teluk (seperti Arab Saudi, Qatar, dan Oman) untuk menggunakan integrasi ekonomi sebagai ukuran keamanan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan biaya ekonomi dari setiap konflik di masa depan, sehingga negara-negara memiliki insentif yang jauh lebih rendah untuk berperang karena kerugian finansial yang akan ditanggung akan sangat melumpuhkan. Perang yang berkepanjangan bukan hanya masalah militer, melainkan ancaman eksistensial terhadap sistem ekonomi global yang dapat memaksa kekuatan-kekuatan besar untuk melakukan intervensi diplomatik yang drastis. Integrasi ekonomi dipandang sebagai salah satu strategi kunci yang dapat mengurangi kemungkinan pecahnya perang di masa depan, meskipun sumber-sumber yang tersedia menunjukkan bahwa hal ini lebih merupakan alat untuk meningkatkan biaya konflik daripada jaminan perdamaian yang mutlak. Berikut adalah penjelasannya:

Meningkatkan "Biaya" Konflik

Konsep utama di balik integrasi ekonomi adalah menciptakan ketergantungan yang saling menguntungkan sehingga perang menjadi pilihan yang sangat mahal secara finansial. Beberapa negara di kawasan Teluk, seperti Arab Saudi, Oman, dan Qatar, mulai mempertimbangkan integrasi ekonomi sebagai ukuran keamanan. Logikanya adalah dengan mengintegrasikan ekonomi antarnegara yang sebelumnya berseteru maka biaya yang harus ditanggung jika terjadi konflik di masa depan akan meningkat secara drastis dan menjadi beban bersama, yang pada gilirannya akan mengurangi insentif untuk berperang. Integrasi ekonomi dipandang sebagai strategi krusial dalam arsitektur keamanan baru di Teluk untuk menciptakan stabilitas jangka panjang. 

Menghindari "Kehancuran Ekonomi Global" sebagai Insentif Perdamaian

Dalam skala yang lebih luas, ketergantungan ekonomi antarnegara di kawasan terhadap pasar global juga berfungsi sebagai pencegah. John Mearsheimer mencatat bahwa risiko kehancuran ekonomi dunia akibat perang yang berkepanjangan memberikan insentif yang sangat besar bagi kekuatan eksternal dan negara-negara kawasan untuk segera menghentikan konflik. Biaya kerusakan ekonomi internasional yang terlalu besar dianggap sebagai satu-satunya faktor yang pada akhirnya dapat memaksa Amerika Serikat untuk menekan Israel agar menghentikan permusuhan. Dampak ekonomi yang merambat ke negara-negara berkembang akan lebih parah dan memerlukan waktu lebih lama untuk bangkit. Akibatnya negara-negara industri Barat juga akan kehilangan potensi pasar dan harus turut turun melakukan bantuan investasi.

Pergeseran ke Arsitektur Keamanan Inklusif

Integrasi ekonomi memfasilitasi pergeseran dari kebijakan pembendungan paksa (coercive containment) yang selama ini gagal memberikan keamanan, menuju arsitektur keamanan inklusif. Kegagalan model “Aliansi Eksklusif” seperti dalam “Abraham Accords”  memerlukan alternatif model yang lebih inklusif. Stabilitas mungkin lebih efektif melalui “ketergantungan bersama” dengan melibatkan Iran yang memungkinkan terciptanya hubungan yang lebih pragmatis. 

Ketergantungan Energi sebagai Pedang Bermata Dua

Hubungan antara Tiongkok dan Iran memberikan contoh nyata bagaimana integrasi ekonomi bekerja dalam praktik diplomasi:
Ketergantungan Tiongkok: Tiongkok telah menjadi sangat bergantung pada minyak Iran yang dijual dengan diskon besar selama bertahun-tahun.
Posisi Iran: Meskipun Iran membutuhkan Tiongkok sebagai pembeli, ketergantungan Tiongkok memberikan Iran posisi tawar yang lebih kuat.
Tekanan Diplomatik: Ketergantungan ekonomi ini membuat Tiongkok memiliki kepentingan untuk menekan Iran agar menyelesaikan konflik, namun pada saat yang sama, Tiongkok tidak ingin bertindak terlalu agresif yang dapat merusak hubungan strategis mereka.

Batasan Efektivitas Integrasi Ekonomi

Meskipun integrasi ekonomi dinilai memilik potensi untuk menjaga stabilitas, namun juga memiliki keterbatasan.
Prioritas Keamanan Nasional Domestik: Iran, misalnya, tetap akan memprioritaskan kepentingan keamanannya sendiri di atas tekanan ekonomi dari mitra dagang seperti Tiongkok atau Rusia. Iran sebagai sebuah negara yang terancam eksistensinya oleh permusuhan Israel tidak akan mengabaikan ancaman keamanan demi keuntungan ekonomi semata.
Batasan Tekanan Drastis: Mearsheimer berargumen bahwa meskipun ada ancaman kerusakan ekonomi yang sangat parah yang dapat memaksa negara-negara yang keras kepala (seperti Israel dalam konteks ini) untuk menghentikan permusuhan, rejim Zionis ekstrem mungkin juga tidak peduli demi “panggilan suci” yang diyakininya.
Risiko bagi Negara Garis Depan: Negara yang mencoba mengintegrasikan diri secara militer dengan satu pihak (seperti UEA dengan Israel) justru bisa menjadi target serangan ekonomi dan militer dari pihak lawan, terlepas dari kedekatan geografis atau ekonomi mereka, dan bila risiko kehancuran sangat parah, mungkin terjadi gejolak dalam negeri yang memaksa mereka mengubah posisinya.

Secara keseluruhan, integrasi ekonomi berfungsi sebagai mekanisme pencegah dengan cara mengubah kalkulasi untung-rugi para pemimpin negara. Hal ini menciptakan situasi di mana perdamaian menjadi lebih menguntungkan secara pragmatis daripada kemenangan militer yang menghancurkan fondasi ekonomi nasional dan global.

Catatan Akhir

Dalam jangka panjang, kemampuan AS untuk memproyeksikan kekuatannya sangat bergantung pada bagaimana ia mengelola institusi internasional dan aliansi strategis. Mearsheimer mencatat bahwa tindakan sepihak dan pengabaian hukum internasional, seperti yang sering ditunjukkan dalam retorika Donald Trump, justru melemahkan pengaruh global Amerika.

Meskipun demikian, penting untuk dicatat bahwa kebijakan luar negeri yang sembrono tidak secara otomatis menghancurkan fondasi kekuatan material suatu negara. Sebagai negara adidaya, Amerika Serikat tetap memiliki kekayaan ekonomi dan populasi yang menjadikannya kekuatan yang harus diperhitungkan.

Hambatan utama dari normalisasi hubungan internasional AS ini bukanlah ketidakmampuan diplomasi, melainkan pengaruh masif lobi Israel yang sistemik dan tidak bergantung pada partai politik yang sedang berkuasa, mengalahkan kepentingan politik domestik AS dan lebih memprioritaskan agenda keamanan Israel di atas kepentingan strategis Amerika sendiri.

Wawasan Global

 

MEMBANGUN KEKUATAN INTERNASIONAL

Oleh: Abdul Jabbar Karim bin Namirudin.


Profesor John Mearsheimer dalam bukunya The Tragedy of Great Power Politics telah memperkenalkan teori “realisme ofensif” dengan berargumen bahwa struktur anarkis sistem internasional memaksa kekuatan besar untuk mencari dominasi demi kelangsungan hidup dan keamanannya. Dalam sebuah wawancara, dia berpendapat bahwa untuk memproyeksikan kekuatan secara global maka Amerika Serikat (AS) jangan hanya mengandalkan pada kekuatan militernya, tetapi juga bersamaan dengan mengelola hubungan dan dukungan lembaga-lembaga internasional dan negara-negara sekutunya melalui diplomasi dan institusi internasional. Profesor Mearsheimer memberikan poin-poin utama bagaimana AS memproyeksikan kekuatannya, dan hal ini juga berlaku dapat diterapkan untuk kekuatan global lainnya.

Pemanfaatan Institusi dan Hukum Internasional: Kekuatan besar seperti AS perlu memberikan perhatian besar pada institusi internasional (seperti NATO, PBB, EU, ASEAN, dan lainnya) serta menghormati hukum internasional. Mengabaikan atau merusak aturan-aturan ini, yang sebagian besar justru dibentuk oleh AS sendiri, akan melemahkan kemampuan untuk memproyeksikan pengaruh secara efektif secara global. Apa yang dilakukan oleh Donald Trump justru sebaliknya. Dalam sebuah wawancara dengan The New York Times, Presiden Trump ditanya tentang batasan kekuasaannya di dunia. Ia menjawab: "Ya, ada satu hal, moralitas saya sendiri, pikiran saya sendiri. Hanya itu yang bisa menghentikan saya. Saya tidak membutuhkan hukum internasional." Ditambah dengan kedekatannya dengan rejim Zionis Israel, — bahkan dipertanyakan apakah justru Trump menjadi sandera dan di bawah perintah —  Netanyahu, semakin menjauhkan AS dari lembaga-lembaga internasional. 

Di pihak lain, pemerintah Tiongkok di bawah Xi Jinping justru memperkuat diplomasi internasionalnya. Dibangunnya BRICS, Shanghai Cooperation Organization (SCO) sebagai kerjasama multilateral memberikan sinyal kebalikan dari kebijakan Trump. Masalah dikenakannya tarif secara sepihak selain dibalas langsung juga tetap dilaporkan ke WTO sebagai lembaga internasional sebagai arbitrer perjanjian perdagangan internasional. Tiongkok mencoba menjadi mediator dengan menjadi juru damai Iran dan Saudi Arabia, memberikan bantuan kepada negara-negara Afrika, sementara Trump memutus program bantuan USAID. Dalam persidangan Dewan Keamanan PBB, Tiongkok dalam menyatakan protes atas pendudukan dan genosida Israel di Gaza selalu merujuk pada resolusi PBB dan hukum internasional yang dilanggar. Ini berbalikan dengan posisi AS sebagai salah satu dari lima anggota Dewan Keamanan PBB yang selalu memveto keputusan sidang yang menunjukkan pelanggaran Israel terhadap perjanjian internasional.

Pentingnya Aliansi: AS diketahui memiliki 800 pangkalan militer di lebih dari 80 negara dibandingkan negara lain rata-rata hanya memiliki segelintir pangkalan di luar negeri Namun sebagai kekuatan hegemoni global tidak mungkin sendirian dapat memproyeksikan kekuatan ke seluruh penjuru dunia. Dalam hal ini aliansi dengan negara-negara sekutu sangatlah penting. Memperlakukan sekutu dengan kata-kata penghinaan, bertindak secara unilateral, atau memaksa mereka mengikuti kehendak AS (seperti dalam kasus konflik Iran) justru merusak jaringan yang diperlukan untuk mempertahankan kehadiran global AS. Secara tak masuk akal Trump justru memperlakukan secara buruk negara tetangga dekatnya, Kanada dan Meksiko. Pernyataan-pernyataan Trump dalam kalimat-kalimat yang bernada menghina (seperti bahwa Kanada akan menjadi negara bagian AS) telah menjauhkan Kanada yang sepanjang sejarah menjadi sekutu terdekat AS. Pernyataan AS untuk mengambil alih Greenland dengan mengabaikan status resminya sebagai wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark (yang juga anggota NATO) hampir memuncak dengan dikirimnya pasukan Jerman untuk turut menjaga Greenland. 

NATO (North Atlantic Treaty Organization) awalnya didirikan AS pasca Perang Dunia Kedua pada 1949 untuk pertahanan kolektif melawan Uni Soviet. Namun, peran dan jangkauannya berubah drastis pasca Runtuhnya Uni Soviet (1991). Bukannya membubarkan diri setelah musuh utamanya hilang, NATO justru menjadi sekutu utama AS untuk melebarkan hegemoninya ke arah Timur. Negara-negara eks-Pakta Warsawa (seperti Polandia, Ceko, dan negara-negara Baltik) ditarik masuk ke dalam orbit Barat. NATO bergeser dari organisasi pertahanan regional menjadi alat proyeksi kekuatan global AS (seperti intervensi di Balkan, Afghanistan, dan Libya). Ekspansi ini memastikan bahwa infrastruktur keamanan Eropa tetap berada di bawah komando AS (komandannya - Supreme Allied Commander Europe selalu dijabat jenderal AS). Presiden Trump telah merusak catatan sejarah yang panjang ini dengan kebijakan dan pernyataan-pernyataan politiknya. Trump beberapa kali mengisyaratkan kemungkinan AS mengurangi komitmennya terhadap aliansi tersebut dan mengeluhkan bahwa negara-negara Eropa "menumpang" pada kekuatan militer AS serta menagih anggota NATO untuk membayar kepada AS, kalau tidak maka tidak akan dilindungi. Ia juga mempertanyakan komitmen otomatis AS terhadap Pasal 5 NATO (bila satu anggota diserang maka otomatis itu dianggap penyerangan kepada seluruh negara NATO dan semua berhak melakukan pembalasan). Komentar para pakar hubungan internasional menyebutkan bahwa pernyataan-pernyataan Trump ini sering dipandang sebagai tantangan terbesar terhadap konsensus pro-NATO dalam kebijakan luar negeri AS sejak akhir Perang Dingin.

Fokus pada Wilayah Strategis yang Vital: Profesor Mearsheimer dalam komentarnya menyebutkan ada tiga wilayah utama yang menjadi kepentingan strategis vital AS, yaitu Eropa, Asia Timur, dan Teluk Persia. Memproyeksikan kekuatan berarti AS harus mampu menyeimbangkan kehadiran di wilayah-wilayah ini tanpa terjebak dalam perang yang menguras sumber daya di satu tempat, yang dapat memaksa AS melakukan "pivot away" (menjauhi titik konflik) dari wilayah penting lainnya seperti Asia Timur. Apa yang terjadi pada era kedua Trump dengan komitmen tanpa batas kepada Zionis Israel dan melakukan penyerangan ke Iran, situasi ini telah mengubah segalanya. Pada saat Iran melakukan pembalasan ke target pangkalan militer AS di negara-negara Arab, ternyata “perlindungan” yang dijanjikan AS sama sekali tidak terwujud. Negara-negara Arab yang selama ini menjadi sekutu AS dan memperbolehkan AS membangun pangkalan militer serta melakukan operasi penyerangan ke Iran melalui pangkalan ini ternyata harus dibayar mahal oleh negara-negara tersebut dengan kerusakan pada fasilitas pengilangan minyak yang menjadi target pembalasan Iran. AS bahkan menarik pasukannya dari pangkalan yang dihancurkan Iran dan membiarkan para sekutunya untuk menyelamatkan diri sendiri.

Saat AS terbukti lebih mementingkan Israel dan meninggalkan tanggung jawabnya terhadap negara-negara Arab selaku sekutunya, maka terbaliklah situasinya. Qatar menyatakan dukungan ke Iran, Bahrain meminta AS membongkar pangkalannya, Saudi Arabia tidak mengizinkan AS menggunakan pangkalan militernya untuk melakukan penyerangan ke Iran. Alih-alih AS memfokuskan pada wilayah vital di Timur Tengah dan Teluk Persia seperti yang disarankan oleh Profesor Mearsheimer, justru sekarang AS kehilangan sekutu di wilayah tersebut. Sementara yang terjadi di pihak lain, Tiongkok semakin memperkukuh posisi ekonominya di wilayah terebut dengan mengalihkan transaksi perdagangan minyaknya melalui mata uang Yuan. Dari Petro-Dollar sekarang beralih menjadi Petro-Yuan. Suatu kemunduran besar bagi AS.

Konsistensi dan Kepercayaan Selaku Mitra yang Bertanggung Jawab: Untuk mempertahankan pengaruh, AS harus dipandang sebagai mitra/pemangku kepentingan yang bertanggung jawab di panggung internasional. Jika AS bertindak secara liar tidak terduga maka dapat dipahami para sekutunya dan negara-negara lain akan mulai menjaga jarak, yang pada akhirnya membatasi jangkauan kekuatan AS secara internasional. Jepang mulai was-was karena AS menarik beberapa pesawat tempur dan rudal pertahanan dari Okinawa untuk dipindahkan ke Israel. Demikian juga Korea Selatan mengalami hal yang sama. Kelompok nasionalis Taiwan juga harus bersiap-siap kecewa karena dari pertemuan dengan Xi Jinping telah mengisyaratkan Trump untuk tidak ingin ikut campur urusan Tiongkok dengan Taiwan. Analisis Profesor Mearsheimer telah terjadi, bahwa AS akan melakukan tindakan pivoting away dari wilayah strategisnya dalam era Presiden Trump. Pemimpin negara lain, seperti di Jepang atau Korea Selatan perlu meninjau ulang atau menegaskan kepercayaan pada komitmen AS. Jika AS dianggap tidak dapat diandalkan atau tindakannya secara sepihak (seperti penyerangan ke Iran) berpotensi merusak sistem ekonomi internasional dalam pasokan minyak dan gas dari Timur Tengah, maka hal ini secara serius akan merusak kemampuan AS untuk melibatkan negara lain untuk menjadi sekutunya, selaku mitra untuk memproyeksikan kekuatannya di dunia internasional.

Manajemen Inventaris Militer: Proyeksi kekuatan secara global jelas memerlukan ketersediaan senjata dan amunisi yang memadai. Terlibat dalam konflik berkepanjangan dapat menghabiskan aset militer yang dibutuhkan untuk mendukung mitra strategis di tempat lain atau untuk menghadapi ancaman baru dari kekuatan besar lainnya seperti Rusia atau Tiongkok. AS harus memfokuskan pembangunan industri militernya secara efektif dan efisien. Saat ini pembiayaannya diandalkan pada utang surat berharga AS di pasar internasional, dan pabrik persenjataan yang melakukan inovasi ternyata terbukti produk persenjataannya ketinggalan jaman dan tidak dapat memasok secara cepat. Hal ini akibat adanya industri persenjataan di AS yang dikendalikan penuh oleh perusahaan swasta yang ternyata lebih mementingkan profit ketimbang menyiapkan stok persenjataan yang sesuai dengan kebutuhan strategis politik luar negerinya. Perang Iran telah membuktikan kelemahan posisi AS ini dalam situasi menghadapi serangan drones dan rudal hipersonik terbaru Iran yang didukung teknologi Rusia dan tak dapat dilumpuhkan oleh sistem pertahanan udara AS yang dibangun dengan teknologi 20 tahun yang lalu. 

Fondasi Kapabilitas Material: Perlu dicatat, bahwa selama ini pemahaman kekuatan suatu negara adalah bergantung pada kekayaan ekonomi dan besarnya jumlah penduduk, yang menjadi dasar untuk membangun kekuatan militernya. AS adalah salah satunya; dan saat ini disusul oleh Tiongkok dan Rusia. Terhadap keadaan ini Profesor Mearsheimer berpendapat, meskipun kebijakan luar negeri yang sembrono seperti yang dilakukan Presiden Trump dapat merusak proyeksi kekuatan AS selaku de-facto hegemoni global, namun hal itu tidak berarti dengan sendirinya mengurangi fondasi material kekuatan AS. Negara adidaya AS akan tetap mempunyai kekuatan yang harus diperhitungkan. Ia memberikan contoh, kekalahan AS di Vietnam, mundurnya dari Afghanistan, atau kekacauan yang ditinggalkan di Irak dan Libya tidak berarti bahwa AS kehilangan kapabilitas materialnya. Hal ini tentu menjadi pertimbangan strategis bagaimana AS (atau negara lain) memproyeksikan kekuatannya secara internasional.



KETIKA SOCRATES BERTANYA

  Socrates di Era Digital: Kenapa Kita  Memuja Kebodohan? Disunting oleh: Abdul-Jabbar Karim bin Namirudin. Tulisan ini mencoba memberikan w...