Rabu, 10 Juni 2026

Wawasan Global

 

MEMBANGUN KEKUATAN INTERNASIONAL

Oleh: Abdul Jabbar Karim bin Namirudin.


Profesor John Mearsheimer dalam bukunya The Tragedy of Great Power Politics telah memperkenalkan teori “realisme ofensif” dengan berargumen bahwa struktur anarkis sistem internasional memaksa kekuatan besar untuk mencari dominasi demi kelangsungan hidup dan keamanannya. Dalam sebuah wawancara, dia berpendapat bahwa untuk memproyeksikan kekuatan secara global maka Amerika Serikat (AS) jangan hanya mengandalkan pada kekuatan militernya, tetapi juga bersamaan dengan mengelola hubungan dan dukungan lembaga-lembaga internasional dan negara-negara sekutunya melalui diplomasi dan institusi internasional. Profesor Mearsheimer memberikan poin-poin utama bagaimana AS memproyeksikan kekuatannya, dan hal ini juga berlaku dapat diterapkan untuk kekuatan global lainnya.

Pemanfaatan Institusi dan Hukum Internasional: Kekuatan besar seperti AS perlu memberikan perhatian besar pada institusi internasional (seperti NATO, PBB, EU, ASEAN, dan lainnya) serta menghormati hukum internasional. Mengabaikan atau merusak aturan-aturan ini, yang sebagian besar justru dibentuk oleh AS sendiri, akan melemahkan kemampuan untuk memproyeksikan pengaruh secara efektif secara global. Apa yang dilakukan oleh Donald Trump justru sebaliknya. Dalam sebuah wawancara dengan The New York Times, Presiden Trump ditanya tentang batasan kekuasaannya di dunia. Ia menjawab: "Ya, ada satu hal, moralitas saya sendiri, pikiran saya sendiri. Hanya itu yang bisa menghentikan saya. Saya tidak membutuhkan hukum internasional." Ditambah dengan kedekatannya dengan rejim Zionis Israel, — bahkan dipertanyakan apakah justru Trump menjadi sandera dan di bawah perintah —  Netanyahu, semakin menjauhkan AS dari lembaga-lembaga internasional. 

Di pihak lain, pemerintah Tiongkok di bawah Xi Jinping justru memperkuat diplomasi internasionalnya. Dibangunnya BRICS, Shanghai Cooperation Organization (SCO) sebagai kerjasama multilateral memberikan sinyal kebalikan dari kebijakan Trump. Masalah dikenakannya tarif secara sepihak selain dibalas langsung juga tetap dilaporkan ke WTO sebagai lembaga internasional sebagai arbitrer perjanjian perdagangan internasional. Tiongkok mencoba menjadi mediator dengan menjadi juru damai Iran dan Saudi Arabia, memberikan bantuan kepada negara-negara Afrika, sementara Trump memutus program bantuan USAID. Dalam persidangan Dewan Keamanan PBB, Tiongkok dalam menyatakan protes atas pendudukan dan genosida Israel di Gaza selalu merujuk pada resolusi PBB dan hukum internasional yang dilanggar. Ini berbalikan dengan posisi AS sebagai salah satu dari lima anggota Dewan Keamanan PBB yang selalu memveto keputusan sidang yang menunjukkan pelanggaran Israel terhadap perjanjian internasional.

Pentingnya Aliansi: AS diketahui memiliki 800 pangkalan militer di lebih dari 80 negara dibandingkan negara lain rata-rata hanya memiliki segelintir pangkalan di luar negeri Namun sebagai kekuatan hegemoni global tidak mungkin sendirian dapat memproyeksikan kekuatan ke seluruh penjuru dunia. Dalam hal ini aliansi dengan negara-negara sekutu sangatlah penting. Memperlakukan sekutu dengan kata-kata penghinaan, bertindak secara unilateral, atau memaksa mereka mengikuti kehendak AS (seperti dalam kasus konflik Iran) justru merusak jaringan yang diperlukan untuk mempertahankan kehadiran global AS. Secara tak masuk akal Trump justru memperlakukan secara buruk negara tetangga dekatnya, Kanada dan Meksiko. Pernyataan-pernyataan Trump dalam kalimat-kalimat yang bernada menghina (seperti bahwa Kanada akan menjadi negara bagian AS) telah menjauhkan Kanada yang sepanjang sejarah menjadi sekutu terdekat AS. Pernyataan AS untuk mengambil alih Greenland dengan mengabaikan status resminya sebagai wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark (yang juga anggota NATO) hampir memuncak dengan dikirimnya pasukan Jerman untuk turut menjaga Greenland. 

NATO (North Atlantic Treaty Organization) awalnya didirikan AS pasca Perang Dunia Kedua pada 1949 untuk pertahanan kolektif melawan Uni Soviet. Namun, peran dan jangkauannya berubah drastis pasca Runtuhnya Uni Soviet (1991). Bukannya membubarkan diri setelah musuh utamanya hilang, NATO justru menjadi sekutu utama AS untuk melebarkan hegemoninya ke arah Timur. Negara-negara eks-Pakta Warsawa (seperti Polandia, Ceko, dan negara-negara Baltik) ditarik masuk ke dalam orbit Barat. NATO bergeser dari organisasi pertahanan regional menjadi alat proyeksi kekuatan global AS (seperti intervensi di Balkan, Afghanistan, dan Libya). Ekspansi ini memastikan bahwa infrastruktur keamanan Eropa tetap berada di bawah komando AS (komandannya - Supreme Allied Commander Europe selalu dijabat jenderal AS). Presiden Trump telah merusak catatan sejarah yang panjang ini dengan kebijakan dan pernyataan-pernyataan politiknya. Trump beberapa kali mengisyaratkan kemungkinan AS mengurangi komitmennya terhadap aliansi tersebut dan mengeluhkan bahwa negara-negara Eropa "menumpang" pada kekuatan militer AS serta menagih anggota NATO untuk membayar kepada AS, kalau tidak maka tidak akan dilindungi. Ia juga mempertanyakan komitmen otomatis AS terhadap Pasal 5 NATO (bila satu anggota diserang maka otomatis itu dianggap penyerangan kepada seluruh negara NATO dan semua berhak melakukan pembalasan). Komentar para pakar hubungan internasional menyebutkan bahwa pernyataan-pernyataan Trump ini sering dipandang sebagai tantangan terbesar terhadap konsensus pro-NATO dalam kebijakan luar negeri AS sejak akhir Perang Dingin.

Fokus pada Wilayah Strategis yang Vital: Profesor Mearsheimer dalam komentarnya menyebutkan ada tiga wilayah utama yang menjadi kepentingan strategis vital AS, yaitu Eropa, Asia Timur, dan Teluk Persia. Memproyeksikan kekuatan berarti AS harus mampu menyeimbangkan kehadiran di wilayah-wilayah ini tanpa terjebak dalam perang yang menguras sumber daya di satu tempat, yang dapat memaksa AS melakukan "pivot away" (menjauhi titik konflik) dari wilayah penting lainnya seperti Asia Timur. Apa yang terjadi pada era kedua Trump dengan komitmen tanpa batas kepada Zionis Israel dan melakukan penyerangan ke Iran, situasi ini telah mengubah segalanya. Pada saat Iran melakukan pembalasan ke target pangkalan militer AS di negara-negara Arab, ternyata “perlindungan” yang dijanjikan AS sama sekali tidak terwujud. Negara-negara Arab yang selama ini menjadi sekutu AS dan memperbolehkan AS membangun pangkalan militer serta melakukan operasi penyerangan ke Iran melalui pangkalan ini ternyata harus dibayar mahal oleh negara-negara tersebut dengan kerusakan pada fasilitas pengilangan minyak yang menjadi target pembalasan Iran. AS bahkan menarik pasukannya dari pangkalan yang dihancurkan Iran dan membiarkan para sekutunya untuk menyelamatkan diri sendiri.

Saat AS terbukti lebih mementingkan Israel dan meninggalkan tanggung jawabnya terhadap negara-negara Arab selaku sekutunya, maka terbaliklah situasinya. Qatar menyatakan dukungan ke Iran, Bahrain meminta AS membongkar pangkalannya, Saudi Arabia tidak mengizinkan AS menggunakan pangkalan militernya untuk melakukan penyerangan ke Iran. Alih-alih AS memfokuskan pada wilayah vital di Timur Tengah dan Teluk Persia seperti yang disarankan oleh Profesor Mearsheimer, justru sekarang AS kehilangan sekutu di wilayah tersebut. Sementara yang terjadi di pihak lain, Tiongkok semakin memperkukuh posisi ekonominya di wilayah terebut dengan mengalihkan transaksi perdagangan minyaknya melalui mata uang Yuan. Dari Petro-Dollar sekarang beralih menjadi Petro-Yuan. Suatu kemunduran besar bagi AS.

Konsistensi dan Kepercayaan Selaku Mitra yang Bertanggung Jawab: Untuk mempertahankan pengaruh, AS harus dipandang sebagai mitra/pemangku kepentingan yang bertanggung jawab di panggung internasional. Jika AS bertindak secara liar tidak terduga maka dapat dipahami para sekutunya dan negara-negara lain akan mulai menjaga jarak, yang pada akhirnya membatasi jangkauan kekuatan AS secara internasional. Jepang mulai was-was karena AS menarik beberapa pesawat tempur dan rudal pertahanan dari Okinawa untuk dipindahkan ke Israel. Demikian juga Korea Selatan mengalami hal yang sama. Kelompok nasionalis Taiwan juga harus bersiap-siap kecewa karena dari pertemuan dengan Xi Jinping telah mengisyaratkan Trump untuk tidak ingin ikut campur urusan Tiongkok dengan Taiwan. Analisis Profesor Mearsheimer telah terjadi, bahwa AS akan melakukan tindakan pivoting away dari wilayah strategisnya dalam era Presiden Trump. Pemimpin negara lain, seperti di Jepang atau Korea Selatan perlu meninjau ulang atau menegaskan kepercayaan pada komitmen AS. Jika AS dianggap tidak dapat diandalkan atau tindakannya secara sepihak (seperti penyerangan ke Iran) berpotensi merusak sistem ekonomi internasional dalam pasokan minyak dan gas dari Timur Tengah, maka hal ini secara serius akan merusak kemampuan AS untuk melibatkan negara lain untuk menjadi sekutunya, selaku mitra untuk memproyeksikan kekuatannya di dunia internasional.

Manajemen Inventaris Militer: Proyeksi kekuatan secara global jelas memerlukan ketersediaan senjata dan amunisi yang memadai. Terlibat dalam konflik berkepanjangan dapat menghabiskan aset militer yang dibutuhkan untuk mendukung mitra strategis di tempat lain atau untuk menghadapi ancaman baru dari kekuatan besar lainnya seperti Rusia atau Tiongkok. AS harus memfokuskan pembangunan industri militernya secara efektif dan efisien. Saat ini pembiayaannya diandalkan pada utang surat berharga AS di pasar internasional, dan pabrik persenjataan yang melakukan inovasi ternyata terbukti produk persenjataannya ketinggalan jaman dan tidak dapat memasok secara cepat. Hal ini akibat adanya industri persenjataan di AS yang dikendalikan penuh oleh perusahaan swasta yang ternyata lebih mementingkan profit ketimbang menyiapkan stok persenjataan yang sesuai dengan kebutuhan strategis politik luar negerinya. Perang Iran telah membuktikan kelemahan posisi AS ini dalam situasi menghadapi serangan drones dan rudal hipersonik terbaru Iran yang didukung teknologi Rusia dan tak dapat dilumpuhkan oleh sistem pertahanan udara AS yang dibangun dengan teknologi 20 tahun yang lalu. 

Fondasi Kapabilitas Material: Perlu dicatat, bahwa selama ini pemahaman kekuatan suatu negara adalah bergantung pada kekayaan ekonomi dan besarnya jumlah penduduk, yang menjadi dasar untuk membangun kekuatan militernya. AS adalah salah satunya; dan saat ini disusul oleh Tiongkok dan Rusia. Terhadap keadaan ini Profesor Mearsheimer berpendapat, meskipun kebijakan luar negeri yang sembrono seperti yang dilakukan Presiden Trump dapat merusak proyeksi kekuatan AS selaku de-facto hegemoni global, namun hal itu tidak berarti dengan sendirinya mengurangi fondasi material kekuatan AS. Negara adidaya AS akan tetap mempunyai kekuatan yang harus diperhitungkan. Ia memberikan contoh, kekalahan AS di Vietnam, mundurnya dari Afghanistan, atau kekacauan yang ditinggalkan di Irak dan Libya tidak berarti bahwa AS kehilangan kapabilitas materialnya. Hal ini tentu menjadi pertimbangan strategis bagaimana AS (atau negara lain) memproyeksikan kekuatannya secara internasional.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KETIKA SOCRATES BERTANYA

  Socrates di Era Digital: Kenapa Kita  Memuja Kebodohan? Disunting oleh: Abdul-Jabbar Karim bin Namirudin. Tulisan ini mencoba memberikan w...