Kamis, 28 Mei 2026

Seri Perspektif Pemikiran (2)

 MEMAHAMI GEOPOLITIK GLOBAL

(Bagian Kedua)

Oleh: Abdul Jabbar Karim bin Namirudin


Pendahuluan

Dua tulisan ini dibuat ketika dunia sedang disibukkan dengan genosida di Gaza dan berlanjut dengan peperangan di Timur Tengah dan di Ukraina. Pada saat tulisan ini dibuat apa yang awalnya dikatakan sebagai “proxy war” atau “perang proksi” sekarang sudah menjadi perang langsung terbuka dengan serangan AS-Israel ke Iran dan serangan beberapa negara Eropa anggota NATO ke Rusia.

Dicoba dengan sedikit uraian ini untuk menunjukkan bahwa ketegangan geopolitik—terutama antara kekuatan besar—tidak boleh dipahami sebagai anomali, tetapi sebagai pola yang berulang secara historis dalam kondisi tekanan sistemik yang melatar-belakanginya. Juga, globalisasi di abad 21 ini menunjukkan bahwa saling ketergantungan dapat menjadi motivasi hidup berdampingan, namun di lain pihak dapat mempertajam persaingan yang memicu konflik geopolitik.

Tulisan pertama ditutup dengan pertanyaan: Menghadapi perdebatan dan pertikaian ini, lalu bagaimana politisi negara menanggapinya? Apakah ada alasan dan penjelasan lain untuk memahami fenomena geopolitik lebih jauh dan selain dari analisis kepentingan ekonomi? 

Berikut dalam tulisan kedua ini diberikan kemungkinan jawaban sekaligus yang berakar dari gagasan klasik beberapa abad silam.

Perspektif Realisme.

Perdebatan dua perspektif antara kapitalisme liberal dengan kritik pemikiran Marxis, — yang notabene keduanya berangkat dari kepentingan ekonomi— nampak belum cukup untuk menjelaskan kenapa konflik geopolitik global ini terus berkembang dan tanpa jera meskipun telah melewati dua Perang Dunia, Depresi Besar 1929, Krisis Keuangan Asia tahun 1997, dan Krisis Keuangan Global tahun 2008. Dari sinilah muncul pandangan Realisme dari kelompok pemikir hubungan internasional untuk mencari jawaban versi ketiga yang lebih difokuskan kepada konflik antar negara sebagai bentuk institusi yang dominan dalam berbagai peristiwa geopolitik, dan tidak lagi memfokuskan pada perspektif ekonomi sebagaimana diuraikan sebelumnya. 

Klasik Yunani sebagai akar pemikiran Realisme 

Kita mulai dengan menilik tulisan klasik jaman Yunani oleh salah seorang tokohnya. Thucydides adalah seorang sejarawan dan jenderal Yunani kuno (460–400 SM ) yang terkenal melalui karyanya History of the Peloponnesian War, yaitu catatan mendalam tentang perang antara Athena dan Sparta. Di antara para pemikir Yunani kuno lainnya, Thucydides menempati posisi yang unik karena ia bukan seorang filsuf metafisika atau etika seperti Socrates, Plato, atau Aristotle, melainkan seorang analis politik dan sejarah. Berbeda dengan Herodotus yang sering disebut sebagai “Bapak Sejarah” yang menulis dengan gaya narasi legenda dan mitologis, Thucydides berbeda drastis dengan pendekatan yang empiris, kritis, rasional, dan mencoba menjelaskan sebab musabab peristiwa politik serta strategis secara sistematis. Karena itu, banyak sarjana menyebut Thucydides sebagai pelopor sejarah ilmiah dan analisis politik realistis. Keunikan Thucydides juga berasal dari fakta bahwa ia bukan hanya penulis tetapi juga jenderal Athena yang terlibat langsung dalam peperangan, perebutan kekuasaan, diplomasi, dan kehancuran politik. Pengalaman praktis ini membuat analisanya sangat berbeda dari filsafat normatif Plato atau Socrates yang mencoba mencari jawaban tentang masyarakat dan negara ideal; Thucydides lebih bertanya “bagaimana negara benar-benar bertindak ketika berhadapan dengan kekuasaan, ketakutan, dan perang?”

Gagasan inti Thucydides adalah analisisnya tentang Athena yang semakin imperialistik, mengendalikan kota-kota sekutu, dan memperluas pengaruhnya secara agresif. Gerakan ekspansi inilah yang kemudian menimbulkan ketakutan di Sparta dan menjadi salah satu penyebab utama Perang Peloponnesos. Pernyataan Thucydides yang sering dianggap sebagai pernyataan realis pertama tentang dinamika antara kekuatan yang sedang naik dan kekuatan dominan yang merasa terancam: “apa yang membuat perang tak terhindarkan adalah pertumbuhan kekuatan Athena dan ketakutan yang ditimbulkannya pada Sparta.” Bagian paling terkenal dari karya Thucydides adalah “Dialog Melos,” ketika Athena mengatakan kepada Melos: “yang kuat melakukan apa yang mereka mampu, dan yang lemah menderita sebagaimana yang harus mereka derita.” Kalimat ini dianggap sebagai inti gagasan realisme politik—terutama politik internasional—yang pada dasarnya bukan dilandasi moralitas atau idealisme melainkan atas dorongan kekuasaan, ketakutan, rasa tidak aman, dan kompetisi,. Kenyataan bahwa moralitas memiliki batas, dan kekuatan yang seringkali menentukan hasil, maka negara-negara kecil sering tunduk pada negara besar. Karena itu, Thucydides sering dipandang sebagai bapak awal Realisme Klasik.

Meskipun Thucydides tidak menyusun “teori” realisme secara formal seperti dalam ilmu hubungan internasional modern, analisis sejarahnya memperkenalkan asumsi-asumsi dasar yang kemudian sangat memengaruhi pemikir realis generasi berikutnya seperti Niccolò Machiavelli (abad 16) dan Thomas Hobbes (abad 17), hingga realis modern seperti Hans Morgenthau dan Kenneth Waltz. Mereka mengembangkan gagasan bahwa dunia politik bersifat kompetitif, keamanan tidak pernah pasti, dan negara harus mengandalkan kekuatannya sendiri. Bagi banyak pakar hubungan internasional, pernyataan Thucydides tersebut menjadi dasar teori keseimbangan kekuatan, teori persaingan hegemoni, dan apa yang dikenal sebagai konsep “Thucydides Trap, ”yaitu kecenderungan munculnya konflik ketika kekuatan baru yang sedang bangkit mengancam posisi hegemon lama. 

Thucydides menggambarkan dunia internasional sebagai ruang tanpa otoritas tertinggi yang mampu menegakkan keadilan antar negara. Bagi kaum realis, pelajaran utamanya adalah bahwa perubahan distribusi kekuatan akan menghasilkan rasa tidak aman, dan rasa tidak aman itu sering kali mendorong rivalitas hingga memicu peperangan, terlepas dari niat baik para pemimpinnya. Dalam kondisi seperti ini, tujuan utama setiap komunitas politik adalah bertahan hidup. Karena tidak ada kekuasaan yang menjamin keamanan bersama, negara harus mengandalkan kemampuan mereka sendiri, karena kekuatanlah yang menentukan hasil akhir. Logika ini kemudian menjadi dasar teori realis tentang anarki dan self-help. Walaupun Thucydides tidak menggunakan istilah “anarki” seperti dalam teori modern, narasi sejarahnya menggambarkan lingkungan politik yang sangat mirip dengan sistem internasional anarkis yang dijelaskan oleh kaum realis kontemporer, bahwa politik internasional dibentuk terutama oleh distribusi kekuatan dan kebutuhan strategis, bukan oleh prinsip moral universal.

Namun penting dicatat bahwa Thucydides tidak memuliakan politik kekuasaan. Ia justru menggambarkannya secara tragis. Dalam narasinya, rasa takut, terancam, ambisi, dan kehormatan, sering mendorong negara menuju konflik yang menghancurkan semua pihak. Athena, meskipun sangat kuat, akhirnya mengalami kehancuran akibat ambisi imperial dan kesombongan strategisnya. Sparta, yang digerakkan oleh ketakutan terhadap ekspansi Athena, juga terjebak dalam perang panjang dan melelahkan. Dengan demikian, Thucydides memandang perang bukan sebagai sesuatu yang mulia, melainkan sebagai konsekuensi berulang dari tragedi politik yang kompetitif.

Di saat yang sama, Thucydides juga menekankan pentingnya faktor kepemimpinan, sikap kehati-hatian, dan kemampuan strategis. Analisisnya terhadap Pericles selaku negarawan Athena pada puncak kekuatan ekonominya, budaya, dan militernya (dia membangun Parthenon, bangunan kuil Yunani yang terkenal) menunjukkan bahwa realisme tidak hanya berbicara tentang agresi dan kekuatan, tetapi juga tentang kebijaksanaan dalam mengelola kekuasaan. Pericles menyadari bahwa Sparta lebih kuat di darat, sementara Athena unggul di laut. Karena itu strateginya adalah menghindari pertempuran darat langsung, mempertahankan kota dengan tembok panjang, menggunakan kekuatan laut Athena, dan mengandalkan sumber daya ekonomi maritim. Bagi Thucydides, strategi Pericles ini rasional dan realistis, bahwa perang bukan soal keberanian emosional, tetapi kalkulasi kekuatan.

Thucydides menggambarkan Pericles sebagai pemimpin yang rasional, berhati-hati, strategis, dan mampu mengendalikan massa demokrasi Athena. Menurut Thucydides, Pericles adalah contoh negarawan realistis, yang paham politik kekuasaan, sadar bahwa kekuatan menentukan keamanan, tetapi juga memahami pentingnya kehati-hatian dengan pertimbangan bahwa Athena sudah menjadi imperium dan tidak bisa mundur tanpa risiko kehancuran. Thucydides juga menyoroti salah satu pidato Pericles yang mengatakan bahwa “kekaisaran Athena mungkin diperoleh secara tidak adil, tetapi terlalu berbahaya untuk dilepaskan.” Ini menjadi salah satu pernyataan paling realistis dalam teks Thucydides, bahwa kekuasaan akan menciptakan kewajiban mempertahankan dirinya, bahkan jika harus mengesampingkan moralitasnya. 

Namun Thucydides dalam narasi lain juga mengkritisi Pericles sebagai figur tragis. Meskipun sangat cerdas, strategis, dan realistis, tetapi tetap tidak mampu mencegah kehancuran jangka panjang Athena. Ketika wabah besar melanda Athena, Pericles kehilangan popularitas dan kemudian meninggal, Athena perlahan kehilangan arah strategisnya. Bagi Thucydides, ketika Pericles terjebak dalam ambisi perang imperial yang berlebihan dan akhirnya menghancurkan Athena sendiri, hal ini memberikan kesimpulan bahkan kepemimpinan terbaik pun tidak sepenuhnya mampu mengendalikan dinamika perang dan politik massa.

Tema realisme lain yang sangat penting dalam pemikiran Thucydides adalah pandangannya tentang sifat manusia. Ia menggambarkan aktor politik sering didorong oleh rasa ketakutan, kepentingan dan ambisi pribadi, serta hasrat akan kekuasaan. Motivasi-motivasi ini muncul terus-menerus dalam berbagai konteks sejarah, sehingga konflik dipandang bukan sebagai sebuah kebetulan, tetapi sebagai bagian inheren dari kehidupan politik manusia. Kaum realis klasik seperti Morgenthau kemudian mengembangkan asumsi bahwa perebutan kekuasaan berakar pada sifat dasar manusia. Pemikir realis modern seperti Kenneth Waltz melihat Pericles sebagai contoh seorang negarawan realistis yang memahami logika kekuasaan dan keamanan, namun juga memberikan pelajaran bahwa sistem itu sendiri rentan mengalami kehancuran setelah pemimpin kuat menghilang, dan perang sering menghasilkan konsekuensi yang tak dapat dikendalikan. Kesalahan strategi, kesombongan, dan keputusan emosional dapat menghancurkan bahkan negara paling kuat sekalipun.

Pemikiran Thucydides juga sangat relevan dalam analisis geopolitik kontemporer, terutama dalam hubungan antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Banyak analis menggunakan konsep “Thucydides Trap” untuk menjelaskan bagaimana kebangkitan Tiongkok dapat memicu rasa takut strategis dalam tatanan internasional yang selama ini dipimpin Amerika Serikat. Apakah konflik akan benar-benar terjadi atau tidak, kerangka Thucydides tetap dianggap penting untuk memahami dinamika perubahan kekuatan global.

Thucydides memberikan gambaran tentang politik internasional sebagai dunia yang penuh tragedi dan jauh dari idealisme para filsuf. Yaitu kenyataan bahwa: kekuasaan sebagai kunci penentu, ketakutan akan membentuk perilaku negara, etika dan moralitas memiliki keterbatasan dalam sistem internasional, dan kompetisi antar negara dapat menghasilkan siklus konflik yang terus berulang.

Gagasan-gagasan inilah yang kemudian menjadi fondasi intelektual Realisme Klasik dan terus memengaruhi cara kaum realis memahami perang, geopolitik, dan tatanan dunia hingga hari ini.

Pertanyaan

Bagaimana gagasan Realisme Klasik yang muncul beberapa abad yang lalu masih dapat diterapkan dan relevan untuk menjelaskan dan memahami konflik geopolitik pada era modern masa kini? 

Tulisan bagian ketiga akan membahasnya untuk mencoba memahami situasi konflik global hari ini.


Daftar Pustaka:

Machiavelli, N., 2003. The Prince. Translated by G. Bull. London: Penguin Classics. 

Morgenthau, H.J., 1946. Scientific Man vs. Power Politics. Chicago: University of Chicago Press. 

Morgenthau, H.J., 1948. Politics Among Nations: The Struggle for Power and Peace. New York: Alfred A. Knopf.

Thucydides, 1910. History of the Peloponnesian War. Translated by B. Jowett. Oxford: Clarendon Press. 

Waltz, K.N., 1979. Theory of International Politics. Reading, MA: Addison-Wesley.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KETIKA SOCRATES BERTANYA

  Socrates di Era Digital: Kenapa Kita  Memuja Kebodohan? Disunting oleh: Abdul-Jabbar Karim bin Namirudin. Tulisan ini mencoba memberikan w...